Aplikasi Pengembangan Agroindustri…

Peran Strategis Industri Kuliner…
April 24, 2013
Diversivikasi Pangan dengan Beras…
April 24, 2013

 

 

 

 Aplikasi Pengembangan Agroindustri Skala Rumah Tangga

Secara sederhana, pengertian agroindustri merupakan suatu lembaga yang memproses bahan nabati atau hewani (Austin 1981). Agroindustri memiliki peranan strategis dalam upaya pemenuhan bahan kebutuhan pokok, perluasan kesempatan kerja dan berusaha, pemberdayaan produksi dalam negeri, perolehan devisa, pengembangan sektor ekonomi, dan perbaikan perekonomian masyarakat pedesaan (Supriyati dan Suryani 2006). Pengembangan Agroindustri Berbasis Pangan Lokal Berbagai aspek perlu diperhatikan dalam upaya mengembangkan agroindustri berbasis pangan lokal. Ketersediaan bahan baku yang merupakan sumberdaya lokal merupakan faktor utama. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah teknologi pengolahan, sumberdaya manusia, pasar, dan kebijakan pemerintah. 

Ketersediaan Bahan Baku

Agroindustri berbasis pangan lokal memerlukan bahan baku berupa hasil pertanian yang sesuai untuk diproses menjadi produk pangan. Hasil pertanian yang berasal dari produksi setempat akan mempermudah produsen agroindustri memperolehnya. Disamping lebih dekat sumber bahan bakunya, harganya bisa lebih murah dibanding membeli bahan baku dari daerah lain yang lokasinya lebih jauh. bahwa produksi pertanian setempat mencukupi untuk bahan baku agroindustri yang ada di wilayah tersebut. Bisa dikatakan  bahwa agroindustri tersebut tumbuh seiring dengan ketersediaan bahan baku yang relatif mencukupi.

Kontinyuitas  pasokan  bahan baku sangat diperlukan agar agroindustri bisa beroperasi sepanjang tahun. Misalnya, komoditas  ubikayu bersifat musiman tetapi masih bisa diperoleh sepanjang tahun walaupun jumlahnya terfluktuasi. Pada musim panen suplai ubikayu relatif berlimpah, selebihnya bahan baku tersedia tetapi dalam jumlah yang relatif sedikit. Fluktuasi suplai bahan baku dicerminkan oleh fluktuasi harga komoditas tersebut. Jumlah permintaan yang relatif tetap sepanjang tahun dan suplai yang bervariasi antar musim membuat harga barang tersebut berfluktuasi. Berbeda halnya dengan petani sagu di Jayapura, mereka mempunyai persediaan sepanjang tahun tetapi mereka menjual dalam jumlah relatif banyak pada periode tertentu.

Pengusaha agroindustri berupaya membeli bahan baku dalam jumlah relatif lebih banyak pada musim panen ketika harga murah. Pembelian ini untuk mengkompensasi pembelian yang relatif sedikit diluar musim panen atau pada waktu pasokan di pasar menipis. Walaupun demikian pengusaha agroindustri tidak bisa membeli bahan baku sebanyak-banyaknya pada musim panen atau ketika harga murah. Pembelian dalam jumlah besar memerlukan biaya yang juga besar.

Teknologi Pengolahan

Ketrampilan yang dimiliki oleh rumah tangga dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan pokok merupakan  pengetahuan yang diperoleh secara turun-temurun. Banyak jenis menu selain yang sudah secara tradisional diolah. Walaupun demikian tidak mudah bagi rumah tangga setempat untuk mengadopsi menu baru tersebut. Hal ini terkait dengan selera yang tidak mudah untuk berubah. Agroindustri berbasis pangan lokal juga sangat jarang mengintroduksi produk baru. Secara teknis produk pangan baru yang berasal dari daerah lain atau agroindustri lain relatif mudah dipelajari dan dipraktekkan. Selera pasar sangat mempengaruhi jenis produk pangan yang dihasilkan oleh agroindustri. Disamping itu harga produk pangan tersebut harus terjangkau oleh konsumen. Peralatan untuk pengolahan umumnya relatif sederhana dan masih manual. Beberapa agroindustri menggunakan mesin untuk pengolahan produk, misalnya mesin pengggilingan pada agroindustri tapioka, tiwul instan, Untuk pengeringan produk, misalnya agroindustri krupuk, masih menggunakan sinar matahari.

Sumber Daya Manusia

Tenaga kerja yang terampil diperlukan untuk agroindustri walaupun pada taraf tertentu tidak memerlukan keahlian yang cukup tinggi. Umumnya ketrampilan tidak diperoleh melalui pendidikan resmi, tetapi pemilik maupun pekerja mendapatkannya melalui pengalaman. Jika memang masih menguntungkan maka pengusaha agroindustri berupaya mendatangkan tenaga terampil dari luar daerah. Melalui pelatihan yang bersifat praktis juga tidak sulit bagi  pengusaha agroindustri utuk mendapatkan tenaga terampil. Pada dasarnya tenaga kerja untuk bekerja di agroindustri berbasis pangan lokal tersedia dalam jumlah cukup. Untuk menumbuhkan agroindustri di suatu daerah perlu didukung sumber daya manusia yang memadai. Dalam hal ini pengelola agroindustri harus mempunyai jiwa wiraswasta  (entrepreneurship). Keuletan sebagai wiraswasta akan mendorong pelaku usaha secara jeli melihat setiap peluang yang ada dan dengan tangguh akan mampu mengatasi segala hambatan yang dijumpai.

Pasar

Produk yang dihasilkan oleh agroindustri rumah tangga umumnya dijual di pasar lokal, yaitu di tingkat kecamatan atau kabupaten. Beberapa produk dijual ke luar daerah, misalnya ke kabupaten sekitarnya sampai ibukota Provinsi. Ada juga pengusaha agroindustri yang mampu menjual ke luar negeri walaupun secara tidak resmi. Akan lebih baik lagi jika bisa menjual ke luar negeri melalui ekspor resmi. Dalam hal ini pengusaha agroindustri dituntut mampu menhasilkan produk olahan yang disukai konsumen dan mampu memasarkan produk tersebut. Dalam hal pemasaran produk agroindustri harus diperhatikan empat komponen utama pemasaran, yaitu:

(i) kualitas produk (product)

(ii) tempat pemasaran (place)

(iii) harga produk yang dijual (price)

(iv) promosi atau iklan (promotion)

Kualitas produk harus dibuat sebaik mungkin agar bis amenarik minat konsumen. Tempat memasarkan produk harus strategis agar mudah dijangkau oleh konsumen. Harga jual produk harus terjangkau oleh konsumen dan tetap memberikan kepada produsen maupun distributor. Sedangkan promosi perlu dilakukan agar produk lebih dikenal dan bisa bersaing dengan produk sejenis yang dihasilkan agroindustri lainnya. Misalnya, penjualan makanan lokal di daerah wisata merupakan cara promosi kepada pengunjung dari luar daerah.

Kebijakan Pemerintah

Kebijakan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk mendorong agroindustri berbasis pangan lokal sangat diperlukan. Pembangunan infrastruktur yang memadai, seperti jala n raya, jaringan telekomunikasi dan listrik, akan memperlancar kegiatan pengolahan dan distribusi. Pemberian kredit dengan bunga lebih murah untuk modal kerja dan pembelian alat bagi agroindustri skala kecil dan menengah dapat meringankan beban biaya produksi.

Dalam kegiatan resmi di daerah selalu disajikan makanan lokal merupakan salah satu cara promosi yang bermanfaat bagi produsen. Disamping itu makanan berbasis pangan lokal perlu terus dipromosikan melalui kegiatan resmi pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah. Makanan tradisional perlu terus dipromosikan di hotel, restoran, kereta api, kapal laut, maupun pesawat terbang. Festival masakan tradisional berbahan baku lokal perlu diadakan secara rutin di tiap daerah mapun tingkat nasional sebagai upaya promosi pangan lokal.

Pemberian raskin sebaiknya hanya untuk wilayah yang makanan pokoknya beras. Sedangkan untuk wilayah yang makanan pokoknya bukan beras harus diberi bahan pangan sesuai yang dikonsumsi masyarakat setempat. Pemberian raskin di daerah yang makanan pokoknya bukan beras hanya akan mendorong masyarakat untuk meninggalkan makanan pokok tradisional dan beralih ke beras. Pada dasarnya masyarakat harus didorong menggunakan bahan pangan lokal sebagai makan pokok untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

Bimbingan dan penyuluhan kepada pengusaha  agroindustri hendaknya diberikan secara terstruktur dan kontinyu. Pelatihan yang diberikan sebaiknya memperhatikan potensi bahan baku, ketrampilan tenaga kerja, dan kemampuan modal pelaku usaha agroindustri. Pemberian bantuan alat dan mesin pertanian sebaiknya diberikan kepada pengusaha agroindustri yang belum maju tetapi mempunyai prospek untuk berkembang. Kecenderungan selama ini bantuan diberikan oleh berbagai instansi pemerintah kepada usaha agroindustri yang sudah maju yang sebenarnya tidak lagi memerlukan bantuan. Dalam pemberian bantuan harus memperhatikan skala usaha yang umumnya kecil. Bantuan alat yang terlalu besar kapasitasnya tidak akan banyak membantu usaha agroindustri di pedesaan.

Pemerintah juga perlu mendorong kemitraan antara pengusaha agroindustri skala kecil dan menengah dengan pengusaha yang relatif lebih besar. Kemitraan ini akan bermanfaat terutama dalam pemasaran hasil. Diharapkan pengusaha besar bisa menjangkau pasar yang lebih luas sehingga pengusaha kecil bisa meningkatkan kapasitas produksinya. (RAP)

Sumber:

Austin, J.E. 1981. Agroindustrial Project Analysis. The John Hopkins university Prss. London

Supriada H. 2005. Potensi, Kendala Dan Peluang Pengembangan Agroindustri Berbasis Pangan Lokal Ubikayu. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Supriyati dan Suryani. 2006. Peranan, Peluang, dan Kendala Pengembangan Agroindustri di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *