Juara Essay #3 : Beras Cerdas, No Beras, No Cry!

Juara Essay #1 : Keanekaragaman Sumber Pati Lokal dalam Balutan Teknologi
May 22, 2014
Juara Lomba Foto
May 22, 2014

RINGKASAN

 

Beras merupakan salah satu komoditi pokok masyarakat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Sebagian besar masyarakat Indonesia bergantung terhadap konsumsi beras. Adanya kebergantungan ini menimbulkan beberapa permasalahan.

Perberasan di Indonesia kerap menjadi bahasan utama dalam setiap isu permasalahan negara. Produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, sehingga memaksa negara untuk melakukan kebijakan impor. Pada tahun 2013, Indonesia melakukan impor beras pada beberapa negara antara lain Vietnam, Thailand, India, Pakistan, dan Myanmar1. Total impor beras Indonesia pada 2013 mencapai 472 ribu ton atau senilai US$246 juta dalam kisaran Rp. 2,4 triliun. Catatan akan impor komoditi beras terulang pada Januari 2014 dengan jumlah 31.729 ton atau sekitar US$ 14,4 juta dalam kisaran 140 miliar2.

RINGKASAN

 

Beras merupakan salah satu komoditi pokok masyarakat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Sebagian besar masyarakat Indonesia bergantung terhadap konsumsi beras. Adanya kebergantungan ini menimbulkan beberapa permasalahan.

Perberasan di Indonesia kerap menjadi bahasan utama dalam setiap isu permasalahan negara. Produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, sehingga memaksa negara untuk melakukan kebijakan impor. Pada tahun 2013, Indonesia melakukan impor beras pada beberapa negara antara lain Vietnam, Thailand, India, Pakistan, dan Myanmar1. Total impor beras Indonesia pada 2013 mencapai 472 ribu ton atau senilai US$246 juta dalam kisaran Rp. 2,4 triliun. Catatan akan impor komoditi beras terulang pada Januari 2014 dengan jumlah 31.729 ton atau sekitar US$ 14,4 juta dalam kisaran 140 miliar2.

 

Permasalahan akan kebutuhan pangan tersebut memerlukan penyelesaian untuk menekan adanya aktivitas impor. Diversifikasi pangan menjadi urgensi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Perlu ada upaya pengembangan bahan pangan lokal dengan memanfaatkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan nilai dari suatu bahan pangan. Diharapkan bahan pangan tersebut mampu menjadi subtitutor beras dan dapat diterima sebagai komoditi pangan nasional. Dukungan terhadap invensi dan inovasi produk bahan pangan sangat diperlukan untuk mendorong keberhasilan diversifikasi. Sehingga adanya kebergantungan negara terhadap komoditi impor dapat ditekan, potensi pangan lokal dapat dimanfaatkan, dan tercapai swasembada pangan.

 

Isi Esai

Beras merupakan salah satu komoditi pokok masyarakat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan. “Belum makan, kalo tidak makan nasi”. Sugesti ini seolah tertanam dari generasi ke generasi. Tidak heran bahwa konsumsi beras rata-rata penduduk Indonesia tertinggi

di dunia 3. Pola kebergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras jelas akan menimbulkan beberapa permasalahan lain. Sayang, ketika bangsa yang terukur gemah ripah loh jinawi, bahkan tongkatpun ditanam akan berbuah namun banyak potensi bahan pangan yang belum dimanfaatkan. Kemudian lahir kebijakan impor untuk mencukupi kebutuhan pangan.

Jumlah produksi beras belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Total penduduk semakin meningkat, alih fungsi lahan tinggi, dan pengaruh perubahan iklim menjadi faktor yang berpengaruh kuat terhadap menurunnya produksi padi di Indonesia. Impor menjadi satu-satunya jalan instan untuk menutupi kebutuhan beras dalam negeri saat ini. Namun, tidak ayal jika kebijakan ini terus berlanjut ketahanan nasional yang akan terancam. Ketika produk impor menjadi candu, dan produksi lokal tidak lagi diandalkan ekonomi bangsa yang kemudian mudah untuk dipermainkan.

Terlihat jelas bahwa adanya kebijakan impor timbul akibat sikap kebergantungan masyarakat terhadap konsumsi komoditi beras konvensional (padi). Perlu menjadi kesadaran bersama untuk melakukan upaya diversifikasi pangan. Hal ini dapat dilakukan dengan upaya merubah bahan pangan lokal menjadi subtitusi yang mampu menggantikan komoditi beras. Bahan pangan lokal menjadi andalan untuk menjadi subtitusi beras konvensional. Salah satu komoditi tersebut adalah ubi kayu.

Data statistik pada tahun 2013 menyebutkan bahwa produksi ubi kayu di Indonesia mencapai 23.824.008 Ton4. Pemerintah menyebutkan bahwa produksi ubi kayu Indonesia mengalami surplus produksi sebesar 2,37 juta ton5. Hal ini menjadi potensi yang cukup besar bagi produk lokal tersebut untuk menjadi komoditi subtitusi bahan pangan pokok. Ditinjau dari aspek nutrisi, per 100 gram ubi kayu mengandung energi 154 kalori, karbohidrat 36,80 gram, protein 1 gram, dan lemak 0,30 gram. Total karbohidrat dalam ubi kayu tercatat lebih tinggi daripada beras. Ubi kayu juga memiliki keunggulan beberapa aspek nutrisi dibandingkan dengan beras antara lain lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan C6.

Ketika produksi lokal akan beras belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri, sementara harga semakin meningkat dan kebutuhan terhadap komoditi impor semakin tinggi, indikasi krisis pangan masyarakat menyertai permasalahan akibat kebutuhan pangan tersebut. Semua permasalahan tersebut harus menjadi pertimbangan bersama, upaya apa yang harus dilakukan?. Diversifikasi? Harus!. Harus menjadi dorongan kuat terhadap pemerintah untuk melakukan percepatan program diversifikasi komoditi pangan pokok.

Dukungan pemerintah terutama masyarakat terhadap produk-produk invensi maupun inovasi produk pangan yang memiliki potensi sebagai subtitusi bahan pangan pokok sangat dibutuhkan. Seperti produk “beras cerdas”, produk yang lahir dari pemuda Indonesia. “Beras cerdas” merupakan invensi produk pangan yang diproduksi dengan bahan dasar tepung ubi kayu (mocaf) dengan peran teknologi yang diberikan sehingga menghasilkan produk beras analog yang mampu menyerupai bentuk dari beras konvensional. Ubi kayu sebagai bahan dasar produksi “beras cerdas” memperkuat bahwa beras analog tersebut layak untuk menjadi komoditi subtitusi beras konvensional, melihat kembali kandungan dari ubi kayu sendiri. Bentuk dari “beras cerdas” yang serupa dengan beras konvensional menjadi potensi untuk diterima masyarakat menjadi subtitusi produk pangan pokok. Adanya “beras cerdas” menjadi harapan terhadap keberhasilan upaya diversifikasi pangan, menekan kebutuhan impor, dan tetap menjaga khazanah pangan lokal.

 

Kesimpulan

Perlu adanya upaya untuk memperkenalkan “beras cerdas” kepada masyarakat secara luas, hingga invensi ini mampu diterima masyarakat sebagai subtitutor beras konvensional. Peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini, memberikan edukasi hingga regulasi agar “beras cerdas” menjadi subtitutor kebutuhan pangan masyarakat secara luas sehingga mampu menjadi komoditi pangan pokok nasional. Kebutuhan terhadap produk impor berkurang hingga swasembada pangan menjadi capaian, yang menjadi cita-cita adalah “Tidak ada lagi impor, karena tetap tenang ada beras cerdas, meskipun no beras, no cry !!!”. Go Pangan Lokal.

Penulis : Mochammad Ainur Ridlo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *