Juara Essay #2 : Gastrotureship “Gastronomi Culture Entrepreneurship” Optimalisasi Desa Wisata Budaya Pangan Lokal Sebagai Upaya Pembentukkan Masyarakat Indonesia berkarakter Gastropreneur

Kampanye “Go Pangan Lokal!”: Langkah Awal MITI Satukan Gerak Segenap Elemen Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Indonesia
May 20, 2014
Juara Essay #1 : Keanekaragaman Sumber Pati Lokal dalam Balutan Teknologi
May 22, 2014

Study Case: Lombok Island

Karunia Romadhani ; Brawijaya University

Indonesia merupakan negara dengan sebutan “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang berarti Indonesia kaya akan sumber daya alam dan berpotensi sebagai negara penghasil pangan. Tidak hanya itu, industri kuliner di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, industri kuliner memberikan sumbangan terbesar bagi perkembangan industri kreatif setelah kerajinan dan fashion. Industri kreatif merupakan sebuah kelompok industri yang terdiri dari berbagai jenis industri dengan masing-masing memiliki keterkaitan dalam proses pengeksploitasian ide sehingga dapat memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti yang kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis kuliner sesuai dengan local wisdom daerah masing-masing. Seiring dengan berkembangnya zaman, industri kuliner di Indonesia kini berevolusi menjadi industri kreatif yang mendorong peran penting dalam pengembangan ekonomi kreatif negara bersama dengan industri kerajinan dan wisata. Sehingga kuliner menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan daerah pariwisata lokal di Indonesia tidak terkecuali Pulau Lombok.

Study Case: Lombok Island

Karunia Romadhani ; Brawijaya University

Indonesia merupakan negara dengan sebutan “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang berarti Indonesia kaya akan sumber daya alam dan berpotensi sebagai negara penghasil pangan. Tidak hanya itu, industri kuliner di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, industri kuliner memberikan sumbangan terbesar bagi perkembangan industri kreatif setelah kerajinan dan fashion. Industri kreatif merupakan sebuah kelompok industri yang terdiri dari berbagai jenis industri dengan masing-masing memiliki keterkaitan dalam proses pengeksploitasian ide sehingga dapat memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti yang kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman jenis kuliner sesuai dengan local wisdom daerah masing-masing. Seiring dengan berkembangnya zaman, industri kuliner di Indonesia kini berevolusi menjadi industri kreatif yang mendorong peran penting dalam pengembangan ekonomi kreatif negara bersama dengan industri kerajinan dan wisata. Sehingga kuliner menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan daerah pariwisata lokal di Indonesia tidak terkecuali Pulau Lombok.

 

Pulau Lombok merupakan salah satu pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan memiliki keunggulan pada keindahan potensi alamnya dan mayoritas masyarakat masih mempertahankan kearifan lokal yang ada sehingga hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Istilah Lombok berarti Lurus yang dihuni oleh mayoritas masyarakat suku Sasak dengan memiliki beragam desa wisata salah satunya Desa Sade. Selain itu, pulau Lombok memiliki local cuisine yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan diantaranya Plecing Kangkung, Ayam Kaliwang, Sate Bulayak, Nasi Balap Pucung, Ares, Sate Rembiga, Sate Tanjung, Poteng Jaje Tujak, Bebalung dan Beberuk Terong. Semua menu dari local cuisine yang ada, memiliki keunikkan tersendiri tidak hanya dari nama makanannya melainkan bahan baku makanan yang khas dan cara penyajiannya yang

unik sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu alternatif pengembangan wisata yang ada di Pulau Lombok. Pulau Lombok merupakan salah satu pulau yang saat ini menjadi daerah wisata idaman bagi warga dosmetik maupun manca negara dengan jumlah wisatawan selalu meningkat tiap tahunnya. Berdasarkan berita yang dikutip dari Warta Ekonomi (2014) menyatakan bahwa “Pada bulan Desember 2013, jumlah kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Bandara Internasional Lombok Nusa Tenggara Barat meningkat hingga 204,4 % dari tahun 2012. Dibandingkan dengan bulan Desember 2012, jumlah wisatawan mancanegara ke Bandara Internasional Lombok sebesar 2.527 orang meningkat menjadi 5.386 orang pada Desember 2013. Hal ini menunjukkan bahwa pulau Lombok berpotensi menjadi daerah industri pariwisata Gastronomi, selain menonjolkan potensi alamnya juga berpotensi untuk menunjukkan kearifan lokal budaya dan kuliner lokal khas daerah. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu (2012) berpendapat bahwa kuliner tidak lepas dari kegiatan pariwisata. Indonesia memiliki beragam kekayaan alam dan tempat wisata menarik yang diminati oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sehingga optimalisasi industri wisata gastronomi menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan devisa negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kata Gastronomi berasal dari bahasa Yunani, yakni Gastro dan Nomos. Gastro berarti lumbung manusia atau perut sedangkan Nomos berarti pengetahuan, sehingga dapat diartikan gastronomi sebagai ilmu pengetahuan mengenai segala jenis pangan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Saat ini, wisata Gastronomi menjadi trend tersendiri bagi negara maju dikarenakan menghasilkan tiga keuntungan, yakni menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun mancanegara, memperkenalkan budaya pangan lokal terhadap wisatawan sehingga dapat mempertahankan warisan budaya serta meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat asli daerah tersebut. Seharusnya, Indonesia juga bisa mengoptimalisasikan desa wisata menjadi desa wisata gastronomi, yakni selain potensi alam yang diunggulkan tetapi juga mengunggulkan kearifan lokal daerah dengan mempertahankan budaya dan kuliner lokal. Tujuan utama optimalisasi desa wisata gastronomi ialah memperkenalkan budaya pangan lokal terhadap masyarakat dan rnembentuk masyarakat lokal berkarakter gastropreneur dikarenakan pangan lokal

Indonesia berpotensi untuk dikembangkan menjadi industri kreatif di bidang kuliner sebagai salah satu industri kreatif yang mampu bersaing dengan restourant mancanegara seperti KFC, Mac Donnal, Hoka hoka Bento dan lain sebagainya. Fakta menarik menunjukkan bahwa rata-rata negara maju harus memiliki minimal 2% entrepreneur. Berdasarkan BPS (2013), jumlah penduduk di Indonesia saat ini berkisar 250 juta jiwa, hal ini dapat dianalisa bahwa Indonesia dapat menjadi negara maju apabila memiliki minimal 5 juta entrepreneur. Akan tetapi, fakta data statistik mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki entrepreneur sejumlah 900.000 orang atau hanya sekitar 0,18 %. Fakta ini mengungkapkan bahwa Indonesia masih sangat jauh dari level negara maju, dengan asumsi jumlah entrepreneur dijadikan acuan utama. Oleh karena itu, hal ini merupakan tantangan bagi kita sebagai masyarakat Indonesia yang harus berpikir sebagaimana pikiran yang dimiliki oleh negara maju. Optimalisasi masyarakat desa menjadi masyarakat berkarakter gastropreneur menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan jumlah entrepreneur yang ada di Indonesia dengan tetap mengunggulkan produk pangan lokal menjadi produk pilihan yang dapat diterima oleh masyarakat global baik dosmestik maupun mancanegara. Rancangan kawasan desa wisata yang dioptimalkan menjadi desa wisata pangan berbasis local wisdom melalui kegiatan pemberdayaan didasarkan pada pengembangan sumber daya manusia masyarakat desa. Sumber daya manusia ini dikembangkan melalui 3 bentuk wisata yang menjadi rancangan membangun dan mengoptimalkan kawasan desa wisata Gastrotureship “Gastronomi Culture Entrepreneurship” yakni Process Of Making, Education of Local Cusine, and History Culture. Adapun rancang bangun ketiga bentuk wisata adalah sebagai berikut:

 

1) Process of Making Tour

Di dalam wisata ini terdapat tour guide yang akan mengajak wisatawan berkeliling untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan makanan tradisional yang merupakan khas daerah tersebut sebagai upaya untuk memberikan pengetahuan mengenai cara membuat pangan lokal sesuai dengan tradisi desa yang menjadi objek wisata.

 

2) Education of Food

Di dalam wisata ini, terdapat pembelajaran mengenai asal usul terbentuknya makanan tradisional tersebut dan sejarahnya. Dalam bagian wisata ini, menjelaskan makna mengenai bentuk atau bahan baku makanan tradisional yang ada di desa tersebut. Tujuan dari wisata ini ialah memberikan pengetahuan mengenai makna yang bisa didapat dan sejarah asal usul makanan tradisional yang ada sehingga menumbuhkan rasa cinta terhadap makanan lokal bagi masyarakat asli atau wisatawan domestik dan memperkenalkan Indonesian Local Cuisine terhadap wisatawan mancanegara.

 

3) History of Culture

Di dalam wisata ini, selain menunjukkan Indonesian Local Cuisine terhadap wisatawan juga mengoptimalkan potensi kearifan lokal yang ada dengan memperkenalkan sejarah budaya seni dan kearifan lokal yang ada kepada pengunjung sebagai wujud pelestarian dan memperkenalkan Local Culture. Perlu dipahami pula bahwa dalam pengembangan wisata gastronomi merupakan bagian dari budaya. Berdasarkan deklarasi keanekaragaman budaya ditetapkan bahwa setiap bangsa mempunyai budaya sendiri dan budaya sebagai identitas suatu bangsa. Dengan adanya pengembangan multi–cultural, tentunya harus berorientasi dalam menghormati gastronomi lokal tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia. Potensi Gastrotureship “Gastronomi Culture Entrepreneurship” tidak hanya dapat diterapkan di Pulau Lombok, tetapi dapat diterapkan di semua daerah di Indonesia tanpa terkecuali. Oleh karena itu tujuan pengembangan gastronomi tradisional perlu menuju ke arah kemajuan adab, budaya, persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari gastronomi lain yang dapat memperkembangkan atau memperkaya gastronomi tradisional di tiap daerah, dalam mempertinggi derajat kemanusiaan masyarakatnya serta turut memperkaya gastronomi Indonesia dan dunia. Dengan tetap pada tujuan utama yakni sebagai sarana pelestarian Indonesian Local Cuisine sebagai simbol pangan lokal yang dapat bersaing secara global dan membentuk masyarakat Indonesia berkarakter gastropreneur untuk dapat bersaing menuju AFTA 2015.

 

Penulis : Karunia Romadhani

 

Referensi :

Pangestu, Mari Elka. 2012. http://mik.upi.edu/2013/06/22/strategi-pengembangan-gastronomi-tradisional-kota-pangkal-pinang/. Diakses 27 April 2014

Badan Pusat Statistik. 2013. Jumlah Masyarakat Entrepreneur. Jakarta; BPS

Warta Ekonomi. 2014. Jumlah Wisatawan Asing ke Lombok. http://wartaekonomi.co.id/berita23811/jumlah-wisatawan-asing–ke-lombok-melonjak-naik-20404-persen.html. Diakses 27 April 2014

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *