Hasil Survei Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Membeli Pada Konsumen Waralaba Restoran Lokal dan Asing

Tiwhul Bermutu Beras Impor Mati Kutu
May 20, 2013
Mengenal Jenis Pangan Lokal Banten: Talas Beneng
June 28, 2013

Release :

Hasil Survei Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Membeli Pada Konsumen Waralaba Restoran Lokal dan Asing

Pada Bulan Februari-Maret 2013, Bidang Kajian dan Kebijakan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) melakukan sebuah survey tentang perilaku konsumen pada waralaba makanan asing dan lokal, khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli konsumen. Riset ini dilakukan di empat kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta dengan melibatkan total 500 responden. Total responden ini dibagi dua, 250 untuk restoran waralaba asing dan 250 untuk restoran waralaba lokal.

Release :

Hasil Survei Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Membeli Pada Konsumen Waralaba Restoran Lokal dan Asing

Pada Bulan Februari-Maret 2013, Bidang Kajian dan Kebijakan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) melakukan sebuah survey tentang perilaku konsumen pada waralaba makanan asing dan lokal, khususnya faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli konsumen. Riset ini dilakukan di empat kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta dengan melibatkan total 500 responden. Total responden ini dibagi dua, 250 untuk restoran waralaba asing dan 250 untuk restoran waralaba lokal.

Teknik pengambilan sample dilakukan dengan metode Quota Sampling, masing-masing kota berjumlah 125 responden yang dibagi menjadi asing dan lokal. Penentuan responden tiap kota berdasarkan kriteria tertentu seperti batasan usia, diambil secara acak (responden merupakan kelipatan tujuh dari responden sebelumnya) di pusat-pusat gerai waralaba masakan asing dan lokal.

Hasil riset menunjukkan bahwa profil kedua responden, menunjukkan karakteristik yang sama, berasal dari anak muda dengan rentang usia 17-25 tahun dengan pendidikan SLTA. Perilaku infomasi kedua jenis responden inipun memiliki kecenderungan yang serupa, yakni sama-sama aktif dalam mengunjungi social media seperti facebook, twitter dan whats app. Rata-rata kedua responden pun menyukai traveling, baca dan wisata kuliner sebagai kegiatan yang sering dilakukan.

Meskipun memiliki karakteristik yang sama, kedua jenis responden ini memiliki perilaku yang berbeda dalam proses keputusan membeli. Frekuensi kunjungan responden restoran waralaba lokal yang lebih dari lima kali hanya 38,4%, sedangkan responden restoran waralaba asing sebagian besar (72,4%) berkunjung lebih dari lima kali. Hal ini berarti restoran waralaba asing mempunyai konsumen yang setia lebih banyak dibanding lokal. Temuan ini sejalan dengan realita yang ada sekarang, yakni bisnis franchise restoran asing yang memang lebih bergeliat dibanding lokal. Karena restoran waralaba asing memiliki konsumen yang lebih loyal dilihat dari frekuensi kunjungan yang sebagian besar lebih dari lima kali.

Bagi responden restoran waralaba asing, rasa suka atau nyaman saat mengkonsumsi produk di restoran waralaba asing ternyata bukan ditimbulkan oleh kelezatan makanan ataupun kandungan gizi yang terkandung dalam makanan. Hasil uji regresi dengan nilai probabilitas 0,05 menunjukkan bahwa tingkat popularitas restoran dan kesan mahal yang ditimbulkan oleh restoran waralaba asing merupakan faktor yang mempengaruhi keputusan membeli responden. Nilai signifikansi untuk faktor tingkat popularitas adalah 0,023, sedangkan untuk image mahal adalah 0,008 dengan arah positif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi rasa suka karena popularitas maupun kesan mahal restoran makin tinggi pula frekuensi kunjungan responden. Kesan mahal dan terkenal yang melekat pada restoran waralaba asing merupakan faktor penarik bagi konsumen. Harga, kandungan gizi maupun kelezatan makanan bukan menjadi pertimbangan bagi responden dalam proses pembuatan keputusan membeli di restoran waralaba asing.

Hal ini bertolak belakang pada temuan terhadap responden restoran waralaba lokal. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa keputusan membeli responden di restoran waralaba lokal dipengaruhi oleh faktor kelezatan makanan yang disajikan. Nilai signifikansi yang diperoleh oleh faktor kelezatan makanan ini adalah sebesar 0,000 dengan arah positif. Sehingga, semakin tinggi kelezatan yang dirasakan, semakin tinggi pula frekuensi kunjungan responden. Frekuensi kunjungan responden yang sebagian besar kurang dari 5 kali menunjukkan bahwa faktor kelezatan saja tidak cukup untuk membuat responden loyal. Lalu bagaimana dengan perbandingan kualitas antara kedua jenis restoran tersebut?

Jika dilihat dari segi kualitas restoran, yaitu tingkat kelezatan makanan, keramahan pramusaji, kandungan gizi dan kenyamanan ruangan, indeks yang diperoleh restoran waralaba asing dan lokal tidak berbeda jauh. Total indeks kualitas restoran waralaba asing adalah 1118 sedangkan lokal adalah 1101. Kenyamanan ruangan merupakan satu-satunya item yang perbedaan indeksnya cukup besar. Restoran waralaba lokal mendapatkan indeks dari respondennya sebesar 290, sedangkan asing 409. Sementara itu, dari segi keramahan pramusaji, restoran waralaba asing memang mendapat nilai yang lebih tinggi (172) dibandingkan lokal (141), namun selisihnya tidak begitu besar. Sedangkan nilai untuk kelezatan makanan (lokal 476, asing 406) dan kandungan gizi

makanan (lokal 196, asing 128) restoran waralaba lokal mendapat indeks yang lebih tinggi dimata respondennya dibandingkan asing. Masing-masing item tersebut telah diuji menggunakan T-Test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan signifikan atau nyata. Hasil uji T-test dengan nilai kepercayaan 95% menunjukkan, bahwa semua item baik dari nilai indeks lokal maupun asing mempunyai nilai signifikansi 0,000. Artinya, terdapat perbedaan secara nyata dalam penilaian responden terhadap masing-masing item tersebut. Hal ini berarti, dari segi kelezatan dan kandungan gizi makanan, restoran waralaba lokal mendapat nilai yang lebih tinggi di mata respondennya dibanding asing. Namun, dari aspek pelayanan yang lain, waralaba makanan lokal masih harus banyak berbenah untuk bisa menghasilkan kenyamanan ruangan dan pramusaji yang ramah serta responsif.

Hasil riset ini tidak hanya semakin mempertegas realita dilapangan tentang lebih digandrunginya restoran waralaba asing dibanding lokal, serta image mahal dan terkenal yang melekat sebagai faktor yang mempengaruhi keputusan membeli konsumen, namun juga memberikan temuan menarik tentang perbandingan kualitas restoran di mata masing-masing konsumennya yang menjadi responden.

Permendag Nomor 07 Tahun 2013 tentang Pengembangan Kemitraan dalam Waralaba Untuk Jenis Usaha Makanan dan Minuman memang membatasi jumlah gerai dan mengharuskan penyertaan modal, kemitraan serta penggunaan konten lokal minimum 80%, namun ada satu hal krusial yang tampaknya alpa untuk dirumuskan. Penciptaan kesempatan ini sayangnya tidak dibarengi dengan pembinaan bagi usaha kecil dan menengah (UKM) agar siap bersaing dengan waralaba asing yang mempunyai system mapan serta modal besar.

Berdasarkan temuan hasil riset ini, ada beberapa hal yang bisa dijadikan fokus pembinaan pemerintah untuk para pengusaha lokal agar bisa bersaing merebut pasar dalam negeri. Kelebihan berupa kelezatan dan kandungan gizi saja ternyata tidak cukup mempengaruhi konsumen untuk membeli. Oleh sebab itu, perlu ada edukasi untuk melakukan packaging yang menarik, serta pemahaman bahwa berbisnis makanan tidak hanya menjual cita rasa, tapi juga pelayanan lain sebagai sebuah kesatuan. Pelayanan berupa kenyamanan ruangan, pramusaji yang ramah dan responsif merupakan beberapa aspek yang tidak terpisahkan dalam bisnis ini dan merupakan produk yang menjadi jualan pengusaha juga. Apalagi melihat konsumen terbesar di bisnis kuliner ini adalah anak muda, maka tempat makan bukan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan dasar, namun juga ajang untuk bersosialisasi. Maka penting diperhatikan bagaimana menyajikan sebuah resto yang menyediakan berbagai fasilitas menunjang agar para anak muda sebagai konsumen betah untuk berlama-lama.

Selain itu, karakteristik konsumen yang aktif dalam media sosial, mengharuskan para pengusaha lokal untuk bisa tanggap dalam mengikuti trend tersebut. Tidak hanya untuk memasarkan produk, tapi untuk mengikuti apa yang sedang menjadi kecenderungan pasar saat ini. Pemerintah dalam hal ini bisa mulai melakukan edukasi teknologi untuk para pengusaha makanan lokal agar tidak gagap terhadap perkembangan teknologi komunikasi ini. Jika pembinaan ini bisa dilakukan, bukan tidak mungkin para pelaku industri pangan lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Klik disini untuk melihat lebih lanjut

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *