Ironi Penghargaan FAO untuk Produksi Pangan Indonesia

Potensi Ubi Hutan sebagai Alternatif Industrialisasi dan Ketahanan Pangan Lokal
June 28, 2013
Jahe Instan atau Gula Jahe?
June 28, 2013

Ironi Penghargaan FAO untuk Produksi Pangan Indonesia

Pada 16 Juni 2013, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa selaku perwakilan dari pemerintah Indonesia menerima penghargaan dari Food and Agricultural Organization di Roma, Italia. Penghargaan dari FAO ini diberikan karena Indonesia dianggap telah berhasil mencapai target pengurangan kemiskinan, kelaparan dan kurang gizi seperti yang tertuang

dalam Pancapaian Pembangunan Millenium (MDGs). Indonesia merupakan satu dari 35 negara yang menerima penghargaan ini. (AntaraNews, 2013). Bagi FAO, Indonesia merupakan aktor penting dalam Kerjasama Negara Selatan-Selatan (South-South cooperation) serta salah satu anggota G20 (FAO, 2013).

Ironi Penghargaan FAO untuk Produksi Pangan Indonesia

Pada 16 Juni 2013, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa selaku perwakilan dari pemerintah Indonesia menerima penghargaan dari Food and Agricultural Organization di Roma, Italia. Penghargaan dari FAO ini diberikan karena Indonesia dianggap telah berhasil mencapai target pengurangan kemiskinan, kelaparan dan kurang gizi seperti yang tertuang

dalam Pancapaian Pembangunan Millenium (MDGs). Indonesia merupakan satu dari 35 negara yang menerima penghargaan ini. (AntaraNews, 2013). Bagi FAO, Indonesia merupakan aktor penting dalam Kerjasama Negara Selatan-Selatan (South-South cooperation) serta salah satu anggota G20 (FAO, 2013).

 

Keberhasilan Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan, kelaparan serta kurang gizi ini dikarenakan kemampuan produksi pangan yang terus meningkat. Selain itu, Indonesia pun mampu memberikan ketersediaan atau akses pangan pada warga (SetgabRI, 2013).

Ketersediaan Sayur di Pasar (Foto: Aji Susanto Anom)

Di tengah keriuhan penghargaan dari FAO tersebut, hal yang berkebalikan justru terjadi di dalam negeri. Beberapa media Nasional sepekan terakhir ini menyuguhkan berita seputar kenaikan harga pangan Beberapa komoditas pangan utama seperti daging ayam, bawang merah, telur ayam, beras, daging sapi, cabe rawit hijau dan kentang di sejumlah daerah harganya merangkak naik mencapai 14%-60 %. Daging ayam yang awalnya 28.000 saat ini telah mencapai 45.000 di Bone, Sulawesi Selatan (Kompas, 24 Juni 2013).

Kebijakan pemerintah untuk menghapus subsidi BBM, sentimen menjelang Hari Raya Idul Fitri serta kenaikan kelas anak sekolah dipandang sebagai pemicunya. Kenaikan harga pangan ini dikhawatirkan akan menyebabkan inflasi yang bisa menembus angka 8% pada tahun ini (Aviliani, Kompas 24 Juni 2013). Oleh sebab itu, tersedianya stok pangan untuk menjaga stabilitas harga menjadi amat penting.

Dalam mengatasi potensi kenaikan harga pangan yang semakin liar, pemerintah sudah mengeluarkan strategi, yaitu melakukan impor untuk beberapa komoditas pangan strategis dan mengusahakan kelancaran distribusi barang. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah memutuskan besaran jatah daging yang bisa diimpor Bulog di luar kuota pemerintah. Rencananya 3000 ton sapi akan diimpor, membuka kran impor untuk 13 jenis hortikultura. Kuota impor ini akan dilakukan penambahan jika pasokan di pasar dianggap kurang (Kompas, 24 Juni 2013).

Menjamin stok pangan dengan impor memang efektif untuk mencegah kelangkaan dan kenaikan harga pangan dalam jangka pendek. Jika stok pangan di masyarakat dirasa kurang, pemerintah tinggal melakukan operasi pasar dengan komoditas yang berasal dari impor. Namun, kebijakan ini bukannya tidak mengandung resiko. Nilai rupiah yang terus melemah terhadap dolar, akan membuat fluktuasi harga pangan tidak terkendali pula. Karena pangan impor yang akan didistrubusikan ke masyarakat pun akan mengalami kenaikan harga seiring menguatnya dolar terhadap rupiah.

Kebijakan impor yang ditempuh oleh Pemerintah ini justru semakin menunjukkan bagaimana roadmap kedaulatan pangan Indonesia yang masih belum terarah. Klaim keberhasilan dari FAO tentang peningkatan produksi dan akses pangan Indonesia, bisa jadi masih di atas kertas. Oleh sebab itu, pemerintah masih harus bekerja ekstra keras untuk dapat membuktikan diri layak mendapat apresiasi tersebut. Lebih dari itu, amanat untuk mensejahterakan masyarakat sebagai tujuan akhir dari praktek bernegara ini adalah hal utama yang harus menjadi pertimbangan pemerintah. (Nuri Ikawati)

Referensi :

Nurhayat, Wiji. 2013. Hatta Rajasa Terbang ke Roma Terima Penghargaan FAO Karena Atasi Kelaparan diunduh dari http://finance.detik.com/read/2013/06/15/095216/2274275/4/hatta-rajasa-terbang-ke-roma-terima-penghargaan-fao-karena-atasi-kelaparan

Gibbons, Zenita. 2013. Indonesia terima penghargaan dari FAO. Diunduh dari http://www.antaranews.com/berita/380426/indonesia-terima-penghargaan-dari-fao

Setgab RI. 2013. Indonesia Mendapat Penghargaan FAO . diunduh dari http://www.setkab.go.id/berita-8805-indonesia-mendapat-penghargaan-fao.html

Imir, Mustafa . 2013. Indonesia, FAO to strengthen fisheries and aquaculture cooperation. Diunduh dari http://www.fao.org/highlights/from-the-field/detail/en/c/178372/

Kompas. 2013. Harga Pangan Berpotensi Jadi Liar. Kompas Cetak, 24 Juni 2013

Kompas. 2013. Pasokan Bahan Pangan Dijamin. Kompas Cetak, 24 Juni 2013

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *