Jangan (Malu) Jadi Bangsa Tempe

Seni Memasak Pangan Lokal
June 28, 2013
Memberdayakan Buah Lokal Melalui Teknologi Pasca Panen
June 28, 2013

Jangan (Malu) Jadi Bangsa Tempe

Sebagaimana kita ketahui, slogan “Jangan jadi bangsa tempe” dikenal dari salah satu pidato presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, yang ingin Indonesia menjadi bangsa yang tidak mudah diinjak-injak dan diremehkan harga dirinya oleh bangsa lain. Ir. Soekarno berkata demikian karena pada saat itu pembuatan tempe masih dilakukan dengan cara diinjak-injak untuk mengelupas kulit kedelai sebelum dilakukan proses fermentasi.

Walau perkataannya seperti memarjinalkan tempe sebagai pangan asli Indonesia, tetapi Presiden Soekarno sangat menyukai tempe. Konon ada dua makanan yang tak pernah absen dari meja makan istana saat itu yakni gulai daun singkong dan tempe goreng.

Jangan (Malu) Jadi Bangsa Tempe

Sebagaimana kita ketahui, slogan “Jangan jadi bangsa tempe” dikenal dari salah satu pidato presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, yang ingin Indonesia menjadi bangsa yang tidak mudah diinjak-injak dan diremehkan harga dirinya oleh bangsa lain. Ir. Soekarno berkata demikian karena pada saat itu pembuatan tempe masih dilakukan dengan cara diinjak-injak untuk mengelupas kulit kedelai sebelum dilakukan proses fermentasi.

Walau perkataannya seperti memarjinalkan tempe sebagai pangan asli Indonesia, tetapi Presiden Soekarno sangat menyukai tempe. Konon ada dua makanan yang tak pernah absen dari meja makan istana saat itu yakni gulai daun singkong dan tempe goreng.

 

Tempe Indonesia (Foto: Nurmarhida RS)

Tempe: Pangan Lokal Indonesia

Sejarah tempe tidak lepas dari sejarah dibudidayakannya kacang kedelai di Indonesia. Masuknya kedelai ke Indonesia pada abad ke XVI tidak lepas dari kedatangan pedagang CIna yang membawa kedelai sebagai makanan. Awalnya, kedelai memang tidak ditanam secara luas sebagai tanaman inti seperti jagung atau ubikayu. Saat itu kedelai hanya ditanam secara tradisional sebagai tanaman sisipan. Berangsur-angsur terjadi perubahan dari corak usahatani tradisional ke corak usahatani komersial untuk memperoleh keuntungan maksimal dari budaya kedelai.

Tidak seperti makanan tradisional lain yang berasal dari kedelai yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Bila ditelusuri dari asal muasal katanya, tempe bukan berasal dari bahasa Tiongkok, tapi bahasa Jawa kuno, yakni tumpi, makanan berwarna putih yang dibuat dari tepung sagu, dan tempe berwarna putih. Pada masa Kerajaan Majapahit, tempe sudah diyakini ada. Penyebutan tempe sebagai makanan secara terang-terangan disebutkan dalam serat Centhini, jae santen tempe (jenis masakan tempe yang dicampur santan) dan kadhele tempe srundengan.

Di Indonesia, kedelai merupakan komoditas terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Lebih dari 90 persen kedelai Indonesia digunakan sebagai bahan pangan, terutama pangan olahan, yaitu sekitar 88 persen untuk tahu dan tempe, 10 persen untuk pangan olahan lainnya dan sekitar 2 persen untuk benih (Sudaryanto, Swastika 2007).

Menurut artikel Kompas, pada 3 Juli 2003 yang ditulis M. Astawan menyebutkan, Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu,dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.

Tempe: Pangan Sehat Indonesia

Saat ini di beberapa tempat proses pembuatan tempe sudah menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pembuatan tempe dibuat dengan lebih bersih, higienis, dan berteknologi. Sehingga tidak bisa dikatakan lagi apabila tempe adalah makanan kelas dua yang tidak sehat. Tempe memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan kedelai yang belum diolah.

Komposisi gizi tempe yang berupa kadar protein, lemak, dan karbohidrat tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe (Rhizopus sp.), protein, lemak, dan karbohidrat yang terdapat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Dibandingkan dengan makanan hasil olahan kedelai lainnya, tempe mengandung isoflavone dengan kadar yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh fermentasi yang dilakukan oleh jamur Rhizopus. Semakin lama proses fermentasinya, semakin tinggi kadar isoflavone-nya. Oleh karenanya, tempe sangat baik dikonsumsi oleh semua usia. Dengan mengkonsumsi tempe, gizi masyarakat tercukupi, serta generasi yang cerdas pun tidak mustahil akan tercipta.

Selain itu,merupakan satu-satunya bahan pangan nabati yang menghasilkan vitamin B12. Tempe Indonesia mengandung vitamin B12 sebanyak 4.6 ug/100g, jumlah yang cukup tinggi dibandingkan dengan tempe Jepang yang kandungannya 0.03-0.06 ug/100g. Hal ini dikarenakan tempe Indonesia mengandung bakteriKlebsiella. Selain sumber vitamin B12, tempe juga mengandung antioksidan yang berfungsi mencegah penuaan dini. Dengan maraknya penelitian tentang khasiat dan manfaat tempe bagi kesehatan, tempe sudah menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia.

Tempe dan Dilema Kedelai Indonesia

Tempe pernah menghilang dari peredaran. Dikarenakan kedelai dalam negeri yang langka karena target produksi kedelai tak tercapai lantaran petani mulai beralih ke komoditas lain. Bertanam kedelai dianggap tidak menguntungkan. Karena banyak petani beralih ke komoditas lain, luas lahan kedelai ikut berkurang dibandingkan tahun lalu. Produksi kedelai dalam negeri tiap tahunnya mengalami penurunan. Pada 2010, misalnya, produksi kedelai tercatat 907.031 ton, kemudian sepanjang 2011 menyusut menjadi 851.286 ton. Pada 2012, produksi komoditas ini kembali menurun menjadi 779.741 ton. Padahal, kebutuhan kedelai di Indonesia saat ini mencapai 2.85 juta ton.

Bahan baku kedelai yang sebenarnya dapat diproduksi oleh petani Indonesia sendiri, sebagian besar masih harus diimpor. Adanya industri olahan primer kedelai ditambah dengan kebutuhan bungkil kedelai sebagai pakan ternak, sebenarnya merupakan peluang pendapatan tunai bagi petani kecil di seluruh Indonesia. Berdasarkan data kasar, Indonesia masih harus mengimpor 1.5 juta ton kedelai dan 1 juta bungkil kedelai.

Bergantung, kalau terlalu lama, maka kita tidak ada bedanya dengan bangsa yang diinjak dan tidak dihargai oleh bangsa lain. Lalu bagaimana solusinya? Sementara, kita memang masih mengandalkan impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Pada akhirnya, kita harus berusaha memulai untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Harus. Bila tidak, maka krisis pangan, tak hanya krisis kedelai, akan terus melanda.

Konsep “tanam, simpan, makan” menjadi solusi yang dapat dikembangkan untuk menyelesaikan permasalahan krisis pangan. Pertama, konsep tanam, hendaknya bercocok tanam dengan bersungguh-sungguh, yakni dalam perspektif jangka panjang perlu dipikirkan benih, pupuk, teknologi, tantangan alam, dan sebagainya. Kedua, konsep simpan, mangandung maksud perlunya melakukan upaya penyimpanan dan pengawetan makanan, sebagai perspektif jangka menengah. Dahulu, masyarakat Indonesia melembaga sebuah unit sosial yang berfungsi menjaga stabilitas pangan atau disebut dengan lumbung pangan. Lumbung pangan merupakan cadangan pangan yang berfungsi untuk menjaga stok atau stabilitas pangan baik karena musim paceklik atau karena ada kondisi darurat seperti bencana alam. Lumbung pangan ini dapat dimaksimalkan fungsinya oleh masyarakat atau pemerintah (bulog). Ketiga, konsep pengendelian konsumsi. Pengendalian konsumsi dengan makan secukupnya atau mengatur pola makanan, merupakan perpektif jangan pendek untuk menghemat persediaan pangan. Dengan demikian, pembangunan ekonomi tidak dapat diandalkan pada hutang dan impor semata tetapi dengan manajemen stok, persediaan, dan penyimpanan.

Jangan Malu Jadi Bangsa Tempe

“Jangan jadi bangsa tempe”. Ir. Soekarno berkata demikian karena dahulu pembuatan tempe masih dilakukan dengan cara diinjak-injak untuk mengelupas kulit kedelai sebelum dilakukan proses fermentasi. Ir. Soekarno ingin Indonesia menjadi bangsa yang tidak mudah diinjak-injak dan diremehkan harga dirinya oleh bangsa lain. Namun sekarang, tempe telah berubah menjadi kebanggaan Indonesia. Tempe menjadi simbol pangan nusantara Indonesia yang sudah diproses sedemikian rupa dengan teknologi yang higienis serta mampu menyediakan gizi yang baik bagi masyarakat Indonesia. Tempe juga menjadi komoditas pangan yang sudah tersebar diseluruh dunia. Walaupun dengan dilema kedelai yang masih impor, kita selalu punya harapan untuk membuat kualitas kedelai dalam negeri menjadi lebih baik dengan konsep tanam, simpan, dan makan yang apabila diaplikasikan dengan sungguh-sungguh, keberlanjutan pertanian dan pangan akan terjamin. Sehingga kita menjadi bangsa yang mandiri, bukan lagi menjadi bangsa yang bergantung pada negara lain.

Siapkah kita menjadi bangsa tempe? Yang memiliki integritas yang tinggi untuk memajukan produk nusantara, ikut berkontribusi dalam pembangunan negara, dan ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Mari kita mulai untuk mencintai pangan nusantara Indonesia dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ini dengan meningkatkan kompetensi, profesionalitas, dan kontribusi diberbagai bidang yang kita sinergikan untuk Indonesia.

Oleh: Riska Ayu Purnamasari, S.Si, Bidang Kebijakan dan Kajian MITI

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *