Media Perfilman dan Televisi sebagai Sarana Promosi Kuliner Tradisional yang Efektif dan Tepat Sasaran

Pengumuman Pemenang Lomba Opini
May 20, 2013
Mencintai Anak, Mencintai Pangan Lokal
May 20, 2013

Media Perfilman dan Televisi sebagai Sarana Promosi Kuliner Tradisional yang Efektif dan Tepat Sasaran

Pengantar

Kuliner tradisional menjadi aset berharga bagi sebuah bangsa, bukan hanya sebagai daya tarik pariwisata namun juga sebagai identitas bangsa itu sendiri. Kuliner tradisional Indonesia mempunyai kekayaan variasi baik dari segi penyajian, bahan baku, bumbu maupun cerita khas dari setiap daerah yang mengiringi pembuatan dan penyajiannya. Aset berupa kekayaan rasa dan cerita ini perlu di eksplorasi seoptimal mungkin melalui promosi dan sosialisasi yang baik.

Media Perfilman dan Televisi sebagai Sarana Promosi Kuliner Tradisional yang Efektif dan Tepat Sasaran

Pengantar

Kuliner tradisional menjadi aset berharga bagi sebuah bangsa, bukan hanya sebagai daya tarik pariwisata namun juga sebagai identitas bangsa itu sendiri. Kuliner tradisional Indonesia mempunyai kekayaan variasi baik dari segi penyajian, bahan baku, bumbu maupun cerita khas dari setiap daerah yang mengiringi pembuatan dan penyajiannya. Aset berupa kekayaan rasa dan cerita ini perlu di eksplorasi seoptimal mungkin melalui promosi dan sosialisasi yang baik.

Dewasa ini, informasi menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Salah satu media informasi yang menjadi kiblat anak muda dalam berbagai hal adalah televisi dan film. Televisi dan film bukan hanya menyajikan hiburan (entertainment) kepada penontonnya, namun juga mampu memberikan pengaruh yang luar biasa dalam mengarahkan perilaku konsumsi audiens. Pengaruh ini bahkan mampu merubah perilaku dan sudut pandang penggunanya terhadap sesuatu hal. Berangkat dari fenomena tersebut, televisi dan bioskop menjadi sebuah alternatif baru untuk melakukan product marketing. Potensi ini layak untuk dimanfaatkan menjadi bagian dari gerakan promosi pangan lokal dan pengenalan kuliner tradisional Indonesia baik di ranah dalam negeri maupun dunia internasional.

 

Keterlibatan Industri Televisi dan Film dalam Promosi Kuliner

Metode pengenalan kuliner tradisional Indonesia dewasa ini masih di dominasi oleh metode konvensional seperti poster, pamflet dan spanduk yang terbatas dan belum tepat sasaran. Meskipun pemerintah sudah menerapkan berbagai program untuk bisa menaikan citra makanan tradisional, namun ternyata animo masyarakat tidak menunjukkan peningkatan yang berarti. Langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum memperkenalkan kuliner Indonesia melalui televisi dan film adalah membangun image yang sesuai untuk kuliner Indonesia itu sendiri. Beberapa contoh image-building yang berhasil dilakukan oleh Pemerintah Korea adalah dengan mengidentikkan makanan tradisional Korea sebagai makanan yang sehat dan bergizi seimbang :

–          Korean food is well balanced (WHO, 2004)[1]

–          Kimchi is one of the world’s top five healthiest foods[2]

Image-building ini menjadi sangat penting karena berkaitan dengan strategi branding, pengemasan, promosi dan derivasi bentuk-bentuk program yang akan dibuat berikutnya. Image-building yang menarik dan tepat sasaran akan mempermudah pengemasan program baik di televisi, film, ataupun media lain dalam rangka menarik minat masyarakat dunia mengenal dan mencicipi makanan Indonesia.

Beberapa kelebihan makanan Indonesia yang bisa diangkat dan digunakan sebagai elemen image-building :

  • Kekayaan rempah-rempah Indonesia dan rasa yang menyusun makanan tersebut. Variasi rempah-rempah dalam masakan ini akan menyajikan sensasi yang kaya di lidah dan khas Indonesia.
  • Produk olahan dari Indonesia mengutamakan komposisi bahan dan metode memasak yang mendukung diet sehat. Keseimbangan nutrisi dalam makanan tersebut didukung oleh bahan rempah-rempah berkhasiat obat, sayuran segar dan seafood yang mengandung banyak nutrisi[3].

Image-building ini juga perlu dikemas dengan menarik dan terpadu dengan elemen-elemen lain. Salah satunya adalah dengan mengembangkan resep standar untuk jenis-jenis kuliner daerah agar lebih mudah dipelajari, direproduksi dan dikenalkan ke masyarakat. Selain itu, perlu ditetapkan sebuah nama formal atau baku yang lebih mudah di ingat. Pengusulan nama baku ini terkait dengan branding dan marketing yang lebih mudah ketika hendak dikemas menjadi sebuah produk. Untuk target jangka panjang, Pemerintah bisa mengusulkan makanan tradisional Indonesia yang khas dan bernilai tinggi untuk dimasukkan menjadi salah satu world heritage ke UNESCO. Apabila makanan kuliner Indonesia bisa mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan dunia, maka penerimaan oleh masyarakat dunia akan lebih mudah.

Beralaskan pondasi berupa image-builidng yang sudah dikemas dengan menarik, program-program yang berhubungan dengan pemasaran melalui media televisi dan film kemudian bisa direncanakan sesuai dengan visi jangka panjang yang telah disusun. Dalam pelaksanaannya, pemerintah tentu membutuhkan kerja sama dengan beberapa pihak terkait, terutama insan media dan pihak swasta. Beberapa alternatif metode untuk mengenalkan kuliner Indonesia melalui media televisi dan film antara lain :

1. Memasukkan unsur makanan tradisional dalam berbagai adegan di program televisi dan film.

Drama televisi dan film melibatkan berbagai elemen public figure yang mempunyai pengaruh besar terhadap audiensnya. Salah satu elemen penting dari drama dan film adalah artis-artis yang terlibat dalam drama tersebut. Penyajian makanan tradisional dalam adegan-adegan drama dan film diharapkan bisa menjadi ajang pengenalan makanan tersebut kepada khalayak ramai, sarana untuk meluruskan bahwa makanan tradisional pun bisa dinikmati dalam situasi modern dengan kemasan yang lebih menarik, serta memanfaatkan pengaruh dari public figure tersebut untuk mengajak penggemarnya.

Untuk target jangka panjang, public figure tersebut bisa dilibatkan sebagai duta pangan nasional atau role model. Pemilihan role model ini bukan hanya didasarkan pada penampilan semata, namun harus mendukung image-building terhadap makanan tersebut. Sebagai contoh, Korea mengusung Wonder Girls (WG) sebagai girl band yang menjadi duta makanan tradisional Korea. WG yang berhasil menembus pasar internasional dengan lagu “No Body” tersebut digambarkan sebagai public figure yang sadar akan makanan sehat dan gizi seimbang dengan rajin mengkonsumsi makanan tradisional Korea yang di steam atau direbus bahkan ketika berada di luar negeri[4].

2. Mengangkat kisah tentang pembuatan makanan tradisional baik dalam bentuk film dokumenter maupun dalam bentuk adaptasi berupa drama berseri.

Salah satu yang drama yang bisa digunakan sebagai contoh adalah drama Jewel in the Palace (2003-2004). Drama ini mengisahkan kisah perjuangan koki istana di Korea yang dibumbui konflik dan kisah cinta yang romantis dan yang sangat menarik di mata penonton. Jewel in the Palace adalah salah satu drama televisi Korea yang menjadi pemantik Korea Wave di Asia dan beberapa negara Eropa beberapa tahun ke belakang[5]. Sejak saat itu, Korea Wave bukan hanya mengangkat tentang hiburan semata namun juga tentang kuliner Korea sebagai identitas budaya. Survei dari Pemerintah Korea (2006) menyebutkan bahwa kuliner tradisional menjadi salah satu alasan utama gelombang kedatangan turis internasional ke Korea, disamping daya tarik wisata dan tempat belanja[6]. Fakta ini menunjukkan bahwa pengaruh drama TV yang digarap dengan matang mampu memperkenalkan kuliner tradisional hingga ke dunia internasional.

3. Mengadakan tournamen/kompetisi memasak di televisi yang bertemakan kuliner tradisional Indonesia.

Program ini bertujuan untuk mendukung image-building dengan menjelaskan mengenai cara pembuatan makanan tersebut, bagaimana penyajian yang menarik dan bahan-bahan yang digunakan. Seperti acara Korea Taste yang ada di Korea, kompetisi memasak seperti ini sebaiknya tidak hanya dibatasi untuk orang lokal saja tetapi juga mengundang orang asing untuk ikut berpartisipasi.

4. Mengangkat resep tradisional di berbagai cooking show di televisi.

Program cooking show menjadi salah satu program yang digemari oleh berbagai kalangan, dari ibu-ibu hingga remaja dan anak-anak. Masing-masing program mempunyai segmentasi produk olahan yang berbeda, ada yang berfokus pada makanan ringan, kue, minuman, makanan olahan seafood dan sebagainya. Program ini hendaknya juga mengupas lebih dalam mengenai kekayaan kuliner khas Indonesia agar masyarakat lebih mengenal dan tertarik untuk membuat di dapur rumah tangga. Apabila kuliner tradisional ini dibawakan oleh celebrity chef papan atas yang diakui kemampuannya, masyarakat akan lebih mudah untuk tertarik sehingga citra kuliner inipun akan terangkat.

Penutup

Perkembangan budaya dan ekonomi menjadi dua elemen yang tidak terpisahkan dalam dinamika struktur sosial masyarakat. Promosi kuliner tradisional melalui industri televisi dan perfilman menjadi salah satu contoh nyata bahwa pembangunan ekonomi dan pariwisata bisa berjalan beriringan dengan promosi budaya serta kultur tradisional. Disinilah peran industri televisi dan perfilman sebagai katalisator perkembangan budaya, standar hidup, dan estetika berbicara.

Strategi marketing melalu media televisi dan film di bioskop sudah sejak lama diterapkan oleh Jepang dan Korea[7]. Kedua negara ini berhasil memasarkan kuliner tradisionalnya hingga dikenal oleh masyarakat dunia melalui program-program televisi dan film yang dikemas dengan menarik. Inisiatif untuk mengangkat unsur budaya berupa kuliner tradisional Indonesia dalam program-program televisi dan film diharapkan dapat menjadikan televisi sebagai kiblat positif ditengah masyarakat Indonesia. Di lain pihak, promosi melalu program televisi dan film ini juga menjadi bukti bahwa pendekatan pengenalan makanan tradisional bisa dilakukan dengan cara yang efektif dan tepat sasaran. Audiens tidak hanya dijejali dengan promosi yang mengandalkan iklan, poster, fair, atau film dokumenter khusus yang terbatas waktu penayangan dan target audiensnya. Pesan yang disampaikan terus menerus dan dikemas dengan cantik melalui sebuah program televisi atau film akan lebih efektif dan tepat sasaran. Melalui pendekatan ini, diharapkan kuliner Indonesia lebih dikenal baik oleh masyarakat Indonesia sendiri sebagai bagian dari kekayaan bangsa, maupun oleh masyarakat dunia sebagai sebuah daya tarik pariwisata.

 

 Oleh: Fajar Sofyantoro, NAIST/Graduate School of Biological Science, Juara 1 Lomba Opini Go Pangan Lokal




[1] Strombald J. 2011. Living a balanced healthy lifestyle. Seoul : Korea Times. Di akses 7 Mei 2013.

[2] Park M. 2012. K-Drama fever impacts other industries. Korea herald. Di akses 7 Mei 2013.

[3] Susiarti S, Setyowati FM. 2005. Bahan rempah tradisional dari masyarakat dayak kenyah di Kalimantan Timur. Biodiversitas (6), 4 : 285-267.

[4] Tae-gyu K. 2011. K-food to be the next big thing in Korea wave. The Korea Times. Di akses 7 Mei 2013.

[5] Hyeon J. 2008. The Korean food wave. The Korea Herald. Di akses 7 Mei 2013.

[6] s.d.a

[7] Korean Culture and Information Service. (2011). The Korean Wave: A New Pop Culture Phenomenon. Seoul: Korean Culture and Information Service, & Ministry of Culture, Sports and Tourism

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *