MEMBANGUN KOLABORASI ANTAR PENELITI DAN UMKM DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING BANGSA

Urgensi Sistem Pengendalian Mutu dalam Industri Pangan Nasional sebagai Upaya Merespons Kebutuhan Konsumen dan Tantangan Industri Pangan di Masa Depan
July 8, 2013
Lomba Jingle Band Go Pangan Lokal
April 7, 2014

MITI Mendorong Lahirnya Teknopreneurship

Saat ini sumbangan Ilmu Pengetahuan terhadap Gross Domestic Bruto (GDP) belum sampai 1%. Oleh sebab itu, perlu adanya gerakan untuk mendorong lebih banyak para pengusaha berbasis teknologi agar tumbuh di Indonesia. Melalui berbagai program penumbuhan kewirausahaan teknologi, Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog menargetkan capaian 1% sumbangan teknopreneurship terhadap GDP Indonesia. Pesan ini disampaikan oleh Dr. Warsito P. Taruno dalam sambutannya di pembukaan acara Launching Galeri Inovasi Teknologi (GIT) dan Bussiness Technology Incubation Center (BTIC), Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Selaku Ketua Umum MITI, Dr. Warsito P. Taruno berharap kedua program intermediasi dan inkubasi bisnis ini mampu menjadi jembatan awal dalam memfasilitasi interaksi antara sektor bisnis dan akademisi.

MITI Mendorong Lahirnya Teknopreneurship

Saat ini sumbangan Ilmu Pengetahuan terhadap Gross Domestic Bruto (GDP) belum sampai 1%. Oleh sebab itu, perlu adanya gerakan untuk mendorong lebih banyak para pengusaha berbasis teknologi agar tumbuh di Indonesia. Melalui berbagai program penumbuhan kewirausahaan teknologi, Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog menargetkan capaian 1% sumbangan teknopreneurship terhadap GDP Indonesia. Pesan ini disampaikan oleh Dr. Warsito P. Taruno dalam sambutannya di pembukaan acara Launching Galeri Inovasi Teknologi (GIT) dan Bussiness Technology Incubation Center (BTIC), Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Selaku Ketua Umum MITI, Dr. Warsito P. Taruno berharap kedua program intermediasi dan inkubasi bisnis ini mampu menjadi jembatan awal dalam memfasilitasi interaksi antara sektor bisnis dan akademisi.

 

Galeri Inovasi Teknologi (GIT) merupakan sebuah Information Technology (IT) Platfrom yang bukan hanya berisi database peneliti dan UMKM namun juga suatu wadah yang menjembatani komunikasi antara kedua sektor tersebut. Lewat interaksi awal antara peneliti dan UMKM ini diharapkan terjadi proses technology transfer, yaitu technology request dari UMKM dan technology offer dari peneliti. Adanya transfer pengetahuan ini akan membantu UMKM dalam mengembangkan produknya menjadi lebih inovatif serta membangun manajerial bisnis yang adaptif terhadap perubahan lingkungan. Penguatan pelaku usaha kecil dan menengah memang menjadi upaya strategis untuk membangun pilar perekonomian yang lebih stabil. Diakui atau tidak, sektor UKM adalah pelaku usaha yang sumbangan terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia cukup besar. Selain itu, sektor ini cenderung mampu bertahan dalam menghadapi krisis keuangan yang beberapa waktu silam melanda perekonomian dunia termasuk Indonesia.

Selain program intermediasi, MITI pun fokus pada inkubasi bisnis. Bussiness Technology Incubation Center (BTIC) merupakan divisi untuk mengembangkan perusahaan start up yang mulai masuk ke dunia bisnis. Hal yang cukup kritikal dalam memulai bisnis adalah kemampuan untuk bertahan di tengah persaingan. Oleh sebab itu, bimbingan bisnis awal sangat diperlukan sehingga benar-benar siap untuk masuk di dunia bisnis. Proses pendampingan ini dilengkapi pula dengan fasilitasi infrastruktur atau sarana dan prasarana untuk mematangkan para tenant seperti virtual office, bussiness gathering dan direktori bisnis sebagai pengembangan jaringan, bussiness clinic. Pada tahun 2013 ini, BTIC telah menerima hibah dari Kemenristek sebagai inkubasi bisnis serta mendapat kepercayaan untuk melakukan pelatihan bisnis kanvas di BPPT.  

BTIC dan GIT serta program-program teknopreneurship MITI lainnya merupakan upaya untuk melakukan akselerasi dalam meningkatkan daya saing bangsa. Teknologi merupakan daya ungkit untuk membangun perekonomian Indonesia yang kompetitif dan bersaya saing. Oleh sebab itu upaya untuk mengaplikasikan teknologi dalam dunia industri menjadi hal yang tidak terelakkan.

Sinergitas Antar Peneliti dan UMKM untuk Daya Saing Bangsa

Inovasi dari para ilmuwan Indonesia bisa jadi tak terhingga jumlahnya. Ada yang sudah dipatenkan dan siap pakai, ada yang masih berupa prototype. Namun tak sedikit pula yang baru berupa karya ilmiah yang dipublikasikan. Biasanya produk riset tersebut dibedakan menjadi riset dasar dan riset aplikasi (Applied Science).

Applied Science atau teknologi aplikasi ini merupakan kebutuhan yang dapat membantu UKM dalam proses product development. Prof Slamet Budijanto selaku salah satu ilmuwan yang hadir sebagai pembicara lebih senang memakai istilah approriate technology atau teknologi tepat sasaran. Teknologi tepat sasaran inilah yang sedianya bisa diaplikasikan pada pengembangan produk UMKM. Dengan adanya sentuhan teknologi semacam ini, akan memberikan nilai tambah bagi produk-produk UMKM.

Jepang adalah negara yang concern pada isu ini. Keberhasilan pemberian nilai tambah pada jeruk menjadi produk makanan yang beraneka ragam merupakan salah satu contoh bagaimana teknologi dimanfaatkan. Pangan olahan inovatif dari jeruk inilah yang kemudian mampu mengangkat perekonomian masyarakat di daerah Gokkun. Development product ini didapat karena adanya kolaborasi atau kerjasama dengan Perguruan Tinggi setempat. Model pemberdayaan atau empowerment dari Universitas setempat adalah bentuk kolaborasi yang efektif untuk pengembangan perekonomian.

Kisah sukses lainnya dalam skema kolaborasi ini juga disampaikan oleh pemilik usaha Crispy Ikan dari Bogor, Aang Permana. Bahan baku dari produk ini adalah ikan patek. Meskipun secara ikan patek mudah didapat dengan harga terjangkau, namun jenis ikan ini mempunyai bau amis yang susah dihilangkan. Kelemahan ini akhirnya dapat diatasi setelah mendapatkan suatu formula dari salah satu peneliti bidang pangan di IPB. Teknologi tepat sasaran yang diperlukan untuk penguatan UKM harus mampu menjawab tantangan yang selama ini menjadi penghambat. Analisa kebutuhan, sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat, kearifan lokal serta kehandalan teknologi adalah prasyarat utama bagi pengembangan teknologi tepat sasaran (Buditjanta, 2013). Pengabaian terhadap faktor-faktor tersebut akan membuat teknologi yang disalurkan ke UKM mangkrak.

Untuk dapat menuju kolaborasi antar pelaku ini, peran pemerintah selaku regulator dan pengelola sumber daya negara tidak bisa diabaikan. Berdasarkan penuturuan Ir. Sulhajji Jompa, peneliti BPPT yang juga hadir sebagai pembicara, pemerintah saat ini sudah mempunyai instrumen kebijakan untuk meningkatkan jumlah wirausaha muda Indonesia. Setidaknya sudah ada tiga kementrian yang fokus dalam hal ini, yaitu Kemendikbud, Kemenkop dan Kemendag. Beberapa fasilitas yang disediakan oleh pemerintah adalah mendirikan lembaga intermediasi, pusat inovasi serta layanan terpadu. Bahkan sudah dikeluarkan Peraturan Presiden tentang inkubator.

Untuk bisa bersanding dengan negara maju, Indonesia membutuhkan setidaknya 2% wirausaha. Saat ini jumlah pengusaha Indonesia tidak lebih dari 0,2%. Tantangan untuk mewujudkan hal tersebut pastinya tidak mudah. Terlebih masih banyak pemain lama yang menguasai beberapa sektor bisnis Indonesia dalam skala besar. Perdagangan bebas yang dilegalkan lewat berbagai kesepakatan internasional pun memberikan tantangan tersendiri. Oleh sebab itu usaha untuk mendorong sinergitas antar aktor dalam meningkatkan daya saing bangsa perlu segera diwujudkan dan diinisiasi oleh berbagai elemen bangsa.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *