Memberdayakan Buah Lokal Melalui Teknologi Pasca Panen

Jangan (Malu) Jadi Bangsa Tempe
June 28, 2013
Teknologi Iradiasi Tingkatkan Kualitas Sorgum Lokal
June 28, 2013

Memberdayakan Buah Lokal Melalui Teknologi Pasca Panen

Sayangnya, potensi tersebut masih belum termanfaatkan dengan maksimal. Perbandingan nilai ekspor dan impor buah Indonesia masih terlampau jauh. Pada tahun 2011, impor buah-buahan 856 juta Dollar AS, sementara ekspor buah lokal ke luarnegeri hanya 242 juta Dollar AS. Maraknya buah impor terutama asal Cina sudah bukan hal baru lagi. Jamak ditemui buah-buahan asal negeri Tirai Bambu tersebut terpampang manis baik di pasar tradisional maupun supermarket.

Memberdayakan Buah Lokal Melalui Teknologi Pasca Panen

Sayangnya, potensi tersebut masih belum termanfaatkan dengan maksimal. Perbandingan nilai ekspor dan impor buah Indonesia masih terlampau jauh. Pada tahun 2011, impor buah-buahan 856 juta Dollar AS, sementara ekspor buah lokal ke luarnegeri hanya 242 juta Dollar AS. Maraknya buah impor terutama asal Cina sudah bukan hal baru lagi. Jamak ditemui buah-buahan asal negeri Tirai Bambu tersebut terpampang manis baik di pasar tradisional maupun supermarket.

 

Tabel total impor buah dan sayur Indonesia pada Februari 2013

Sumber : BPS, diolah dari www.detik.com

Beberapa kendala yang menjadi penghambat bagi buah-buahan lokal untuk bisa bersaing dengan produk luar adalah standarisasi produk dan mi n imnya p e n e ra p a n teknologi pascapanen pada buah Indonesia. Untuk bisa dipasarkan, buah harus mempunyai keunggulan kompetitif bukan hanya komparatif, misal dari segi jumlah. Keunggulan kompetitif ini mulai dari kualitas buah hingga pengemasan yang menarik.

buah lokal

Strawberi Lokal Indonesia (Foto: Shandra Shapeka Alvian)

 

Buah lokal Indonesia yang akan dipasarkan harus mempunyai standar yang baik berupa keamanan mutu, yang disertai dengan sertifikasi keamanan pangan, dan tanggal kadaluarsa. Hal ini jika terpenuhi akan memudahkan dan menjadi daya tarik bagi konsumen. Selain itu, pengemasan dan pengawetan menjadi hal yang tidak kalah penting. Mengingat, jika ingin melakukan ekspor, maka eksportir buah lokal harus memastikan kesegaran buah hingga sampai di Negara tujuan.

Sebuah kisah memilukan mengenai pengemasan dan pengawetan buah tujuan ekspor ini pernah terjadi di kelompok tani Mekar Sari, Bali. Sedianya salak Sibetan khas daerah Bali akan diekspor ke Timor Leste. Namun ternyata membusuk karena jarak tempuh yang memakan waktu hingga 10 hari. Alhasil, ekspor tersebut pun gagal dilakukan. Teknologi lilinisasi untuk mengawetkan salak ternyata tidak mampu membuat salak bisa bertahan hingga 10 hari (Majalah Gatra, 2013)

Petani buah lokal selama ini cenderung melakukan penanganan atau pengolahan buah dengan cara yang masih tradisional. Teknologi pasca panen untuk membuat buah lokal bisa dinikmati hingga Negara lain menjadi suatu kebutuhan mendesak bagi petani. Peran aktif pemerintah dan akademisi untuk melakukan perekayasaan dan difusi teknologi pasca panen ini sangat dinantikan oleh petani lokal kita. (Nuri Ikawati)

Referensi :

Majalah Gatra. 2013. Hasrat Mendunia Salak dan Manggis

Newsletter Komunika. 2012. Potensi Buah Indonesia. Diterbitkan oleh Kementerian Informasi dan Teknologi Republik Indonesia

Suhendra, Zulfi. 2013. RI Rajin Impor Buah dan Sayur dari China, Ini Alasan Gita Wirjawan. Diunduh dari :http://finance.detik.com/read/2013/04/03/143039/2210504/4/ri-rajin-impor-buah-dan-sayur-dari-china-ini-alasan-gita-wirjawan

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *