Memulai Gerakan Pangan Lokal dari Keluarga

Program
April 11, 2013
Pangan Fungsional Ala Jepang, sebuah Terobosan Industri Pangan
April 24, 2013

 

 

 

 

Kesadaran untuk melakukan diversifikasi pangan melalui gerakan kembali ke pangan lokal sebenarnya sudah dimiliki oleh pemerintah. Hal ini setidaknya tercermin dari beberapa kebijakan Kementrian Pertanian yang menjadi target atau capaian kinerjanya. Diversifikasi pangan dilaksanakan melalui upaya-upaya Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), menurunkan konsumsi beras, dengan program aksinya antara lain: 1) Internalisasi Penganekaragaman Konsumsi Pangan: advokasi, kampanye, promosi, sosialisasi, pendidikan formal dan nonformal; 2) Pengembangan Bisnis dan Industri Pangan Lokal: advokasi, sosialisasi dan penerapan standar mutu dan keamanan pangan serta fasilitasi UMKM dalam pengolahan pangan lokal.

Bahkan Presiden pun mengeluarkan peraturan tersendiri untuk merealisasikan diversifikasi pangan. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 tahun 2009 tentang Diversifikasi Pangan ini tiap Pemerintah Daerah diharapkan mampu menyusun berbagai program implementasi keanekaragaman pangan.

Beberapa dearah pun sudah melakukan menyusun rencana aksi terkait gerakan keanekaragaman pangan ini. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya. Daerah yang terkenal sebagai Kota Pelajar ini memiliki Gerai Pusat Informasi Pangan Nusantara Pangan Lokal untuk mempromosikan dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pangan yang berbasis sumber daya lokal. Gerai itu juga sebagai tempat untuk promosi aneka produk pangan nusantara dan lokal dari hasil kerja para pelaku usaha di DIY (Kusuma, 2013). Selain DIY ada juga Kabupaten Depok dan Provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan slogan One Day One Rice. Di Jawa Barat, gerakan ini bahkan tidak hanya dilakukan seremonial saja, tapi setiap hari rabu setiap warga.

Namun tampaknya berbagai program yang dilakukan oleh pemerintah tersebut belum benar-benar mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras dan gandum. Hal ini bisa terlihat dari penurunan konsumsi beras pada tahun 2009-2010 yang sangat rendah, konsumsi umbi-umbian yang belum meningkat, serta skor PPH yang belum mencapai target maksimal.  

Tabel Rata-Rata Konsumsi Beras dan Umbi-Umbian Per Kapita Per Tahun

tabel

Sumber : Laporan Kinerja Kementerian Pertanian, 2011

Keterangan : Jumlah rata-rata konsumsi per kapita per tahun 2009 dari Ketela pohon, ketela rambat dan gablek. Diolah dari Data Konsumsi Rata-rata per Kapita Setahun Beberapa Bahan Makanan di Indonesia, Susenas 2007-2011

Adapun Realisasi capaian skor PPH pada tahun 2010 sebesar 77,5 atau 89,69 persen dari target skor PPH sebesar 86,4. Sementara itu, impor paling tinggi adalah tepung terigu, yaitu sekitar 5 juta ton tepung gandum per tahun (Sumber : Laporan Kinerja Kementerian Pertanian, 2011 )

Tanggungjawab untuk menuju kedaulatan pangan nasional melalui penganekaragaman pangan memang bukan semata tugas pemerintah. Masyarakat sebagai pelaku pembangunan dan konsumen sekaligus juga mempunyai peran yang signifikan. Gerakan ini bisa berhasil jika masing-masing rumah tangga di Indonesia sudah mulai mempunyai kesadaran untuk mulai mengganti pola makannya. Gerakan ini sekaligus juga sebagai perbaikan kualitas gizi makanan masyarakat Indonesia.

Hal ini bukan tidak mungkin dilakukan. Seorang ibu rumah tangga di daerah Tangerang telah memulai upaya ini. Melalui komunitas wirausaha dari kalangan kaum perempuan bernama Bintaro Entrepreneur Community(BEC), Ibu Ambar Wati menekuni masalah pengolahan umbi-umbian menjadi aneka hidangan lezat dan sehat serta ekonomis.

Berbagai pangan olahan yang berasal dari umbi-umbian berhasil dihasilkan dan dipasarkan ke masyarakat. Kegiatan ini sekarang malah mampu memberikan tambahan penghasilan bagi ibu rumah tangga di sekitarnya. Padahal awalnya hanya bentuk keprihatinan karena makanan-makanan siap saji lebih disukai anak-anak daripada umbi-umbian yang memang kurang popular.  

Daerah – daerah di Indonesia rata-rata masih mempunyai ikatan social yang tinggi. Hal ini tercermin dari pranata atau kelembagaan social yang masih eksis seperti PKK, arisan, kelompok pengajian, dan lain sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh Ibu Ambar, gerakan penganekaragaman pangan ini bisa ditularkan melalui berbagai pranata social yang ada di dalam masyarakat. Karena sifatnya yang kultural, keberhasilan gerakan ini justru mempunyai probabilitas yang lebih tinggi ketimbang program yang sifatnya top down dari pemerintah. (NI)

Sumber :

Ismed Eka Kusuma, DIY Miliki Gerai dengan 70 Jenis Pangan Lokal. http://www.aktual.co/nusantara/160107diy-miliki-gerai-dengan-70-jenis-pangan-lokal

Laporan Kinerja Kementerian Pertanian, 2011

Kearifan Lokal Menuju Kemandirian Pangan, http://tangerangselatankota.go.id/main/page/pojoktangsel2013

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *