Mencintai Anak, Mencintai Pangan Lokal

Media Perfilman dan Televisi sebagai Sarana Promosi Kuliner Tradisional yang Efektif dan Tepat Sasaran
May 20, 2013
Tiwhul Bermutu Beras Impor Mati Kutu
May 20, 2013

Mencintai Anak, Mencintai Pangan Lokal

 

Pilih Resep Menjelang MPASI

Memasuki masa MPASI (Makanan Pendamping ASI) anak, ada rasa senang yang teraduk dengan kekhawatiran pada saya sebagai ibu. Senang karena pertumbuhannya akan mulai didukung makanan padat meski ada juga rasa khawatir bahwa saya tidak bisa menyajikan menu yang bergizi nan lazis.

Petualangan MPASI diawali dengan proses googling resep-resep MPASI lokal yang memang umumnya diunduh oleh para ibu Indonesia.

Mencintai Anak, Mencintai Pangan Lokal

 

Pilih Resep Menjelang MPASI

Memasuki masa MPASI (Makanan Pendamping ASI) anak, ada rasa senang yang teraduk dengan kekhawatiran pada saya sebagai ibu. Senang karena pertumbuhannya akan mulai didukung makanan padat meski ada juga rasa khawatir bahwa saya tidak bisa menyajikan menu yang bergizi nan lazis.

Petualangan MPASI diawali dengan proses googling resep-resep MPASI lokal yang memang umumnya diunduh oleh para ibu Indonesia.

Agak terkejut juga ketika mendapati sejumlah resep dengan campuran bahan yang kurang familiar bagi saya, seperti kabocha, ubi jepang, jeruk bangkok dan bahkan sejumlah bahan yang secara eksplisit menyebutkan produk impor. Bingung karena harus cari dimana bahan-bahan berlabel “asing” tersebut, sekaligus bingung seberapa dalam saya harus merogoh kocek mengingat label impor biasanya identik dengan harga tinggi.

Benar saja, di awal masa MPASI saya dan mungkin banyak ibu Indonesia yang akhirnya goyah juga pakai produk impor meski itu hanya sekadar buah yang sebenarnya bisa dicari di pasar induk atau bahkan kebun belakang yang dikelola PKK RW. Benar juga, bahwa saya harus merogoh kocek begitu dalam demi menyesuaikan resep yang sarat produk impor. Kegoyahan itu kian menjadi ketika banyaknya testimoni positif dari para ibu di sebuah situs yang mengelola kumpulan resep MPASI.

Menata Ulang Kecintaan Terhadap Pangan Lokal

Memasuki bulan ketiga MPASI, saya mulai menyerah berpatokan pada resep MPASI rasa impor yang mahal dan susah dicari. Gagal menemukan bahan yang tertulis, saya cenderung mudah demotivasi dan akhirnya berujung pada bubur ayam keliling yang lewat depan rumah. Hingga suatu hari saya ikut berpartisipasi dalam sebuah seminar yang diselenggarakan PKK di RW saya. Temanya tentang memenuhi gizi keluarga dengan pangan organik lokal. Dari seminar singkat tersebut saya menyimpulkan bahwa rupanya ada banyak pilihan bahan yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan menu santap keluarga, tak terkecuali menu MPASI anak.

Sejak saat itu, saya mulai memberanikan diri untuk memodifikasi resep dengan menggunakan bahan lokal yang tersedia. Tofu saya akali dengan meracik tahu sutra dengan ASI perah, kabocha saya ganti dengan labu parang kuning, salmon saya ganti dengan ikan lele dari empang tetangga, ubi jepang saya substitusi dengan ubi cilembu dan bahkan saya sukses mengganti bayam impor dengan bayam merah yang ternyata ditanam oleh petani di lahan tidur dekat rumah. Belakangan saya juga berhasil menanam cabe, jeruk nipis, kunyit dan belimbing sendiri di perkarangan rumah. Benar-benar sangat memudahkan saat hendak memasak, seperti punya “pasar” di kebun sendiri.

Modifikasi resep MPASI dengan bahan lokal rupanya memberi tantangan dan kesenangan sendiri. Sebagai ibu, kreativitas saya teruji betul. Apa yang ada di lahan tidur dekat rumah, apa yang ada di taman hati PKK dan bahkan perkarangan rumah semuanya bisa dimanfaatkan. Kalau masih ada bahan yang kurang, saya tinggal memanggil tukang sayur yang selalu hadir dengan bahan lokal segar, bahkan organik!

Oleh karena itu, jangan mudah terbujuk dengan resep yang menghadirkan bahan impor. Jangan pula tergoda oleh tampilan foto makanan yang terkesan sedap. Makanan yang sedap akan lebih bernilai jika juga diimbangi dengan gizi yang cukup dan cinta. Bukan sekadar cinta ibu kepada anaknya saat memasak tetapi juga cinta pada sumber pangan lokal cap Indonesia.

 

Pangan Lokal Pilihan Ibu Cerdas

Sebagai ibu cerdas, pemilihan pangan lokal adalah pilihan cerdas. Betapa tidak? Hampir semua bahan pangan yang tersaji di meja makan bisa didapat dengan mudah, cepat dan murah. Mudah karena tinggal melangkah beberapa meter menuju pasar tradisional dan memilih bahan yang segar. Cepat karena transaksi dengan pedagang mengalir dinamis, kurang-kurang kembalian sang pedagang biasanya menambahkan bonus tomat atau rawit. Urusan murah, jelas pangan lokal yang relatif minim rantai distribusi dan berasal dari sawah atau kebun sendiri memiliki harga yang lebih terjangkau.

Ibu cerdas tak hanya sekadar memilih pangan lokal yang memang telah tersedia di sekitarnya. Ia juga perlu menjadi pengendali mutu pangan lokal itu sendiri. Meski pangan lokal dapat dengan mudah diakses tetapi ibu sebagai pilar kesehatan keluarga juga tetap perlu teliti memilih bahan racikan masakannya. Kenali sejumlah ciri sayuran dan buah segar. Manfaatkan teknologi googling untuk menemukan tempat terbaik membeli pangan lokal yang segar, organik dan sebisa mungkin bukan merupakan produk transgenik.

Memilih bahan pangan lokal juga berarti menumbuhkan kecintaan pada sumber daya alam bangsa sendiri kepada anak. Kelak ketika anak tumbuh dewasa dan menjadi pemimpin bangsa, maka ia tahu bagaimana harus mencintai sumber daya alam yan dimilikinya. Kecintaan pada bangsanya, bermula dari sajian pangan lokal khas meja makan ibunda.

 

 

Catatan: tulisan ini sepenuhnya opini penulis dan menggunakan referensi sebatas pengalaman nyata penulis.

 

 Oleh : Fitri Arlinkasari, pengajar di Psikologi Universitas YARSI, Juara 3 Lomba Opini Go Pangan Lokal

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *