Mengkampanyekan Potensi Pangan Lokal dan Urgensi Kemandirian Pangan melalui Gerakan Pangan Lokal 2016 di Banten

ed-img_0188
Kampanye Pangan Lokal 2016 di Surabaya untuk Membangun Sikap Bijak Masyarakat dalam Melestarikan Pangan Lokal Daerah
November 14, 2016
GPL Voice dan Talkshow Go Pangan Lokal 2016 di Kendari untuk Mewujudkan Sinergisitas Ketahanan Pangan Nasional
November 16, 2016
ed-gpljabaja-gts2

Go Pangan Lokal (GPL) merupakan sebuah inisiasi  gerakan  intellectual  social  movement  nasional yang digagas oleh MITI dan MITI Klaster Mahasiswa bertepatan dengan momen hari pangan sedunia. Gerakan ini dilakukan di beberapa kota dan wilayah di Indonesia untuk mengingatkan akan pentingnya ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia.

 Tim GPL Regional Jabaja (Jakarta, Banten dan Jawa Barat) bekerja sama dengan Indonesia Membina dan Agrowing telah melaksanakan rangkaian kegiatan GPL di SMA Negeri 1 Cibadak dan Kampung Dungus Sukajadi, Lebak, Banten pada tanggal 29-30 Oktober 2016. Kegiatan GPL ini terdiri dari 3 kegiatan utama yaitu GPL Goes to School, Penyuluhan Kesehatan, serta Workshop dan Lomba Agribisnis.

GPL Goes to School bertujuan untuk membuka wawasan tentang ragam dan potensi usaha pangan lokal kepada siswa SMA Negeri 1 Cibadak serta untuk menumbuhkan minat dan kecintaan siswa terhadap pangan lokal, khususnya pangan lokal di daerah Banten. Kegiatan diawali dengan memperkenalkan jingle GPL kepada siswa SMA Negeri 1 Cibadak, flashmob GPL, pembukaan bazar pangan lokal jajanan hasil UMKM Serang, seminar Go Pangan Lokal, dan diakhiri dengan penandatangan petisi dari siswa dan guru sebagai bentuk dukungan terhadap pangan lokal.

Seminar Go Pangan Lokal, memperkenalkan siswa lebih lanjut tentang pentingnya pangan lokal dan berbagai inovasi hasgpl-jabaja-gtsil olahan pangan lokal yang dapat dikembangkan secara khusus di Banten oleh Donnie Aqsha, S.P, pemilik e-commerce Agrowing.  “Kita harus bangga terhadap pangan lokal yang kita miliki, bahkan orang luar negeri pun suka pangan lokal dari Indonesia. Tugas kita adalah bagaimana menjadikan pangan lokal bisa bersaing melalui pengemasan” ujar Donnie. Acara seminar kemudian ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dan foto bersama.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan agenda Penyuluhan Kesehatan yang dihadiri oleh 32 orang ibu-ibu di kampung Dungus Sukajadi. Penyuluhan yang diberikan oleh Siti Lailatul Khairiyah dan Niken Dwi Nurlita ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada warga mengenai pentingnya sanitasi dalam kehidupan sehari-hari dan pentingnya pembangunan jamban pada setiap rumah.  Selain itu, disampaikan pula mengenai pentingnya menjaga sirkulasi udara yang baik pada setiap ventilasi rumah agar kesehatan penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Penyuluhan ini dilakukan karena melihat banyaknya warga kampung Dungus Sukajadi yang masih tinggal dalam rumah keluarga intinya masing-masing walaupun sudah mempunyai keluarga sendiri. Ini yang membuat satu rumah dapat ditempati oleh banyak orang di kampung Dungus Sukajadi.

Melalui pemutaran video dan diskusi bersama warga, warga akhirnya telah menyadari pentingnya pola hidup bersih. Namun, warga masih terkendala dana untuk membangun beberapa fasilitas yang digunakan untuk mendukung pola hidup bersih, seperti jamban dan sebagainya.

Kegiatan Workshop dan Lomba Agribisnis, atau lebih tepatnya inovasi pangan lokal dilakukan pada hari Minggu (30/10) yang diikuti 17 peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan dan mencari berbagai jenis cara pengolahan pangan lokal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi pangan lokal.

Acara ini dimulai dengan workshop dari Eva Siti Nurazizah dan M Alfiyan ed-bersama-warga-kampung-dungusS, mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang juga fokus dalam inovasi pangan lokal. Dalam workshop ini dijelaskan berbagai macam olahan dari pangan lokal yang bisa memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Peserta kemudian dipersilakan untuk membuat kreasi dengan bahan utama singkong. Dalam waktu kurang dari satu jam, peserta mampu membuat berbagai olahan dari singkong. Inovasi hasil olahan singkong yang dibuat peserta di antaranya adalah singkong Thailand, bola-bola singkong, stik singkong, dadar gulung singkong, perkedel singkong dan dadar singkong.

Melalui kegiatan ini, terlihat warga kampung Dungus Sukajadi memiliki kreativitas yang tinggi dalam membuat inovasi pangan lokal. Pendampingan dari lembaga atau instansi berwenang sudah sepatutnya menjadi sebuah kegiatan yang harus dilaksanakan untuk memberdayakan warga dan sumber daya alam di kampung Dungus Sukajadi agar bisa menjadi lebih optimal. Karena itu, MITI Klaster Mahasiswa melalui program GPL bekerja sama dengan Tim Indonesia Membina dan Agrowing akan terus mencoba mengupayakan pengembangan program berkelanjutan untuk kampung Dungus Sukajadi. “Kita menargetkan dalam beberapa tahun ke depan kampung Dungus Sukajadi ini akan menjadi kampung wisata agropreneur yang mampu menyokong kebutuhannya sendiri serta mampu memberi alternatif warga Banten untuk berwisata” ungkap Dimas Prabu Tejonugroho, selaku Ketua Pelaksana GPL MITI Klaster Mahasiswa 2016. (MITIKMJabaja/MediaGPL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *