Penerapan Otomasi Produksi Sebagai Upaya Perbaikan Proses Pascapanen Empon-Empon

Teknologi Iradiasi Tingkatkan Kualitas Sorgum Lokal
June 28, 2013
Pengembangan Pangan Lokal Menuju Industrialisasi Pangan Lokal di Papua
June 28, 2013

Penerapan Otomasi Produksi Sebagai Upaya Perbaikan Proses Pascapanen Empon-Empon

Potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia sangat besar. Dari 40.000 jenis tanaman yang saat ini tumbuh di dunia, 30.000 jenis tanaman tersebut tumbuh dengan baik di Indonesia. Sebagai Negara agraris, selain dikenal denga hasil hutannya, Indonesia juga dikenal sebagai Negara penghasil jamu. Dari 30.000 jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia, 940 jenis diantaranya termasuk dalam jenis tanaman obat. Namun potensi tersebut saat ini belum dapat dikembangkan secara optimal. Menurut penelitian, dari sekian banyak tanaman obat yang kini tumbuh di Indonesia, baru 20-22% yang dibudidayakan sedang 78% sisanya diperoleh dengan mengambil secara langsung dari hutan.

Penerapan Otomasi Produksi Sebagai Upaya Perbaikan Proses Pascapanen Empon-Empon

Potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia sangat besar. Dari 40.000 jenis tanaman yang saat ini tumbuh di dunia, 30.000 jenis tanaman tersebut tumbuh dengan baik di Indonesia. Sebagai Negara agraris, selain dikenal denga hasil hutannya, Indonesia juga dikenal sebagai Negara penghasil jamu. Dari 30.000 jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia, 940 jenis diantaranya termasuk dalam jenis tanaman obat. Namun potensi tersebut saat ini belum dapat dikembangkan secara optimal. Menurut penelitian, dari sekian banyak tanaman obat yang kini tumbuh di Indonesia, baru 20-22% yang dibudidayakan sedang 78% sisanya diperoleh dengan mengambil secara langsung dari hutan.

Sejak tahun 2005, uni Eropa tercatat menjadi net importir rempah dan herbal dimana tingkat impornya mencapai 358.200 ton per tahun dan mengalami peningkatan sebesar 4% pertahun sejak 2001. Sebanyak 60% dari total impor rempah dan herbal Uni Eropa berasal dari Negara berkembang, namun bukan berasal dari Indonesia melainkan dari Cina, India, Maroko, Mesir dan Turki. Dengan demikian, sebenarnya potensi tanaman obat Indonesia dapat dikembangkan menjadi komoditi yang cukup berharga. Hal paling mendasar yang harusdilakukan adalah perbaikan system penanaman serta pengolahannya.

Masyarakat Indonesia biasa mengenal tanaman obat hasil budidaya sebagai empon-empon. Hingga saat ini, masih banyak petani yang menjual empon-empon dalam keadaan segar dengan harga yang sangat rendah, yaitu Rp. 1.000,00/ Kg. Padahal jika empon-empon tersebut diolah menjadi simplisia terlebih dahulu, harganya dapat naik 100% menjadi Rp. 2000,00/ Kg. Produk simplisia merupakan produk olahan empon-empon yang di iris-iris dan dikeringkan. Proses pengolahan inilah yang menjadi fokus perhatian untuk diperbaiki. Produk simplisia harus diproduksi menurut standar tertentu agar mempunyai nilai ekonomis yang tinggi ketika dijual di pasaran. Standarisasi ini meliputi kebersihan, kadar air serta kadar minyak dari simplisia kering sesuai SNI 01-3393-1994. Simplisia kering ternyata dapat ditingkatkan lagi dengan mengolahnya menjadi serbuk simplisia. Peningkatan nilai ekonomisnya mencapai 900% dimana satu kilogram serbuk simplisia mencapai harga Rp. 18.000,00/ Kg. Hal ini menjadi bukti bahwa dengan pengolahan yang benar, nilai ekonomis komoditas tanaman obat dapat meningkat.

Otomasi Produksi Pasca Panen

Kebanyakan petani empon-empon masih menerapkan cara tradisional dalam pengolahan pascapanen. Empon-empon dibersihkan dari tanah yang masih melekat setelah panen. Warga mencuci empon-empon dengan cara yang masih tradisional, yaitu mencuci empon-empon menggunakan tangan. Setelah dicuci, empon-empon ditiriskan kemudian dirajang menjadi simplisia. Proses perajangan yang masih konvensional terkadang membuat simplisia yang dihasilkan tidak memenuhi SNI sehingga mempunyai harga yang rendah di pasaran. Setelah dirajang menjadi simplisia, empon-empon kemudian dikeringkan dengan cara menjemurnya di bawah sinar matahari. Metode penjemuran yang masih konvensional ini mempunyai resiko dimana ketika mendung atau hujan empon-empon tidak dapat dijemur sehingga dapat menyebabkan empon-empon berjamur. Kebanyakan petani baru dapat mengolah empon-empon hingga tahap ini. Inilah yang membuat empon-empon petani tradisional mempunyai harga yang rendah di pasaran.

Otomasi produksi menjadi sebuah peluang yang dapat diterapkan oleh petani tradisional untuk meningkatkan nilai ekonomis empon-empon. Metode pengolahan pascapanen yang masih tradisional dapat diganti dengan pengolahan yang melibatkan mesin. Proses pembersihan dan perajangan dapat dilakukan menggunakan washslicer machine. Mesin ini dapat membersihkan empon-empon sekaligus merajangnya menjadi simplisia. Empon-empon dimasukkan kedalam badan mesin yang berisi air untuk diputar oleh rotor berongga seperti pada mesin cuci. Gerakan memutar ini akan membuat empon-empon seolah terbentur ke dinding rotor sehingga dapat membuang kotoran yang melekat

pada empon-empon. Gerakan ini sekaligus akan mengarahkan empon-empon menuju lubang pengluaran yang telah dilengkapi dengan pisau perajang. Pada lubang pengeluaran inilah empon-empon dirajang menjadi simplisia yang kemudian akan diolah menjadi simplisia kering.

Ketersediaan sinar matahari sebagai media pengering simplisia sangat fluktuatif, apalagi ketika musim hujan tiba. Maka dari itu, metode pengeringan konvensional ini dapat diganti menggunakan oven sehingga tidak perlu tergantung pada sinar matahari. Oven yang digunakan menggunakan bahan bakar biomassa seperti kayu dan sampah daun dimana bahan bakar ini tersedia dalam jumlah yang banyak dan dapat diperbaharui. Melalui penggunaan oven ini, akan dihasilkan simplisia kering dalam waktu yang relatif cepat dengan kadar air yang dapat diatur sesuai dengan SNI. Selain itu abu sisa pembakaran dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pertanian empon-empon sehingga teknologi ini cukup ramah lingkungan.

Nilai ekonomis empon-empon dapat ditingkatkan dengan mengolah rajangan simplisia menjadi tepung simplisia. Pengolahan tingkat lanjut ini dapat dilakukan menggunakan grinder yang dapat mengolah rajangan simplisia kering menjadi tepung simplisia. Pengolahan tepung simplisia tidak dapat dilakukan dengan sembarangan karena simplisia mempunyai serat yang tidak mudah hancur. Maka dari itu, grinder yang digunakan juga harus mempunyai mata pisau yang dapat menghancurkan serat simplisia dengan baik. Hasil akhir simplisia berupa tepung merupakan produk simplisia yang paling tinggi nilai ekonomisnya.

Langkah Strategis Penerapan Otomasi Produksi

Pengolahan menggunakan bantuan mesin (otomasi produksi) dapat meningkatkan nilai ekonomis empon-empon. Proses perubahan metode pengolahan empon-empon menggunakan mesin memang tidak dapat dilakukan secara langsung. Masyarakat belum mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan teknologi dengan baik. Maka dari itu dibutuhkan sinergisitas dari berbagai pihak yaitu pemerintah, akademisi serta masyarakat supaya proses peralihan metode pengolahan empon-empon secara tradisional menuju moderen dapat berjalan dengan baik. Pemerintah melalui program-programnya penelitian dan pengembangan teknologinya merupakan salah satu contoh upaya pemerintah untuk memberdayakan potensi masyarakat. Namun pemerintah akan mengalami kesulitan jika harus bergerak sendiri dalam melaksanakan program-programnya. Disinilah peran akademisi menempati posisi yang penting dimana mereka merupakan tangan panjang pemerintah untuk memperlancar proses transfer teknologi kepada masyarakat. Masyarakat sebagai objek pemberdayaan juga harus membuka diri terhadap teknologi baru yang mulai diperkenalkan kepada mereka.

Indonesia mempunyai potensi kearifan lokal yang jarang dimiliki oleh negara-negara lain di dunia, terutama negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk memantapkan posisi Indonesia di tengah persaingan global, sehingga Indonesia akan menjadi salah satu negara yang cukup diperhitungkan karena mempunyai komoditi yang dibutuhkan oleh negara-negara maju. Program pemberdayaan potensi Indonesia bukan dimulai dengan hal yang besar, seperti teknologi moderen di Negara-negara maju. Pemberdayaan yang tepat untuk Indonesia dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, yaitu dengan mengoptimalkan potensi lokal untuk bersaing di tingkat internasional. Dan optimalisasi potensi lokal Indonesia salahsatunya dapat dilakukan dengan penerapan otomasi produksi sebagai pengganti proses produksi secara tradisional.

Deni Andriyansyah, Mahasiswa UNS Jurusan Pendidikan Teknik Mesin

Sumber:

Masyhud. Lokakarya Nasional Tanaman Obat Indonesia. Kementrian Kehutanan Republik Indonesia; 2010 [cited 2012 Apr 12]. Available from:http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/6603.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *