Pergeseran Pola Konsumsi Masyarakat

Pangan Fungsional Ala Jepang, sebuah Terobosan Industri Pangan
April 24, 2013
Ragam Jenis Pangan Lokal Indonesia
April 24, 2013

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara pengkonsumsi beras terbesar di dunia. Pada tahun 1971, konsumsi beras per kapita baru mencapai 105 kg. Jumlah ini naik menjadi 128 kg/ kapita/ tahun pada tahun 2004. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama jumlah konsumsi beras di Thailand hanya sekitar 79 kg/ kapita/ tahun, sedangkan Malaysia 63 kg. Selain itu, cakupan wilayah konsumsi beras di Indonesia pun mengalami perluasan. Jika pada tahun 1979 hanya ada tiga provinsi yang mengkonsumsi beras, maka pada tahun 1996 meningkat menjadi 11 provinsi (Litbang Deptan, 2007).  Namun ada yang menarik jika mencermati data yang berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional yang rutin diadakan oleh BPS seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini. 

Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional , Modul Konsumsi 1999, 2002 dan 2005 (2003, 2004 dan 2006 hanya mencakup panel 10.000 rumahtangga, sedangkan 2007, 2008, 2009, dan 2010 mencakup panel 68.800 rumah tangga). Tahun 2011-2012 merupakan data Susenas Triwulan I dan Triwulan III (Maret dan September ) dengan sampel 75.000 rumah tangga. Catatan : *) Termasuk minuman beralkohol

Dari tabel di atas terlihat bahwa konsumsi beras masih tergolong tinggi dari tahun 1999 hingga 2007. Sejak tahun 2008 hingga 2012, presentase konsumsi makanan jadi terus meningkat, sebaliknya konsumsi untuk beras justru mengalami penurunan. Dengan semakin meningkatnya konsumsi makanan jadi, bisa diindikasikan bahwa telah terjadi perubahan pola konsumsi di masyarakat yang cenderung lebih menyukai makanan jadi.

Seiring dengan meningkatnya konsumsi makanan jadi, pertumbuhan industri makanan dan minuman jadi di tanah air pun menunjukkan peningkatan omzet tiap tahun. Pada tahun 2011 Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mencatat bahwa nilai penjualan makanan dan minuman mencapai 660 triliun sedangkan tahun 2012 meningkat hingga 700 triliun.

Bergesernya pola konsumsi masyarakat ini apakah merupakan sebuah berita gembira karena Indonesia akan terbebas dari cengkeraman impor beras? Ada beberapa hal yang perlu dikaji terlebih dahulu untuk bisa menyatakan hal tersebut. Meskipun mengalami penurunan, tapi konsumsi beras cenderung masih tinggi, sehingga ke depan kebutuhan terhadap beras pun masih akan besar. Beberapa hal yang harus dicermati dari fenomena ini adalah soal budaya konsumsi, keamanan pangan dan tingginya arus impor terhadap produk makanan dan minuman jadi.

Dari segi budaya, pergeseran ini dikhawatirkan menjadi pertanda bahwa masyarakat semakin menyukai hal-hal yang bersifat instan, praktis. Selain itu, dari segi keamanan pangan, ada beberapa isu yang harus menjadi perhatian. Makanan jadi banyak digemari karena kepraktisannya. Teknologi pangan yang berkembang pesat telah memudahkan konsumen untuk menyantap beragam produk pangan kapan pun dengan cita rasa yang bervariasi. Namun di sisi lain teknologi pangan akan menyebabkan semakin tumbuhnya kekhawatiran akan tingginya resiko tidak aman bagi makanan yang dikonsumsi. Teknologi pangan telah mampu membuat makanan-makanan sintetis, menciptakan berbagai macam zat pengawet makanan, zat additives Berta zat-zat flavor. Zat-zat kimia tersebut merupakan zat-zat yang ditambahkan pada produk-produk makanan, sehingga produk tersebut lebih awet, indah, lembut dan lezat. Produk-produk inilah yang disukai konsumen untuk dikonsumsi (Sumarwan, 1997)

Meningkatnya konsumsi makanan jadi ini pun diikuti oleh kenaikan impor produk-produk makanan dan minuman kemasan. Pada tahun 2010 impor produk makanan dan minuman  mencapai USD2.439,6 juta atau tumbuh tinggi yaitu 78,4% dibandingkan dengan tahun 2009 senilai USD 1.367,3juta. Para pengusaha di sektor industri makanan danminuman pun juga mengkhawatirkan arus barang imporilegal yang marak beberapa tahun belakangan ini.Menurut GAPMMI, impor ilegal pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 10 – 15% dari total produk barang yang beredar di pasaran (Bank Mandiri, 2011).

Secara statistik ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang sedang naik, selain angka pertumbuhan yang berkisar di angka 6,3% per tahun, pendapatan per kapita pun mengalami peningkatan (Data Strategis BPS, 2012). Namun kita pun perlu mencermati kualitas pertumbuhan ini. Apakah sudah mencakpu perbaikan kualitas sumber daya manusia, misalnya kesehatan maupun pendidikan. Sehingga kita tidak akan terlena hanya dengan capaian angka-angka tersebut. (NI)

Sumber :

Jamal, Erizal, dkk. 2007. Beras dan Jebakan kepentingan Jangka Pendek.http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/ART5-3a.pdf

Sumarwan, Udjang Ph.D. 1997. Masalah Keamanan Pangan Dalam Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia.http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/files/2010/07/ISSUES-OF-FOOD-SECURITY-IN-INDONESIAN-FOOD-CONSUMPTION.pdf

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=05&notab=7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *