Teknologi Iradiasi Tingkatkan Kualitas Sorgum Lokal

Memberdayakan Buah Lokal Melalui Teknologi Pasca Panen
June 28, 2013
Penerapan Otomasi Produksi Sebagai Upaya Perbaikan Proses Pascapanen Empon-Empon
June 28, 2013

Teknologi Iradiasi Tingkatkan Kualitas Sorgum Lokal

Dulu sorgum adalah makanan pokok bagi masyarakat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara timur (NTT). Kondisi alam di sana membuat sorgum mudah tumbuh. Belakangan, karena perkembangan zaman, jagung dan pagi menggantikan peran sorgum.

Sesungguhnya sorgum sangat cocok ditanam di wilayah Indonesia, khususnya di bagian timur Nusantara, misalnya Nusa Tenggara. Sorgum tidak butuh banyak air, cocok ditanam di daerah beriklim panas dan kering. Namun, hingga tahun 2011, hanya tinggal 40% petani Belu yang menanam sorgum.

Teknologi Iradiasi Tingkatkan Kualitas Sorgum Lokal

Dulu sorgum adalah makanan pokok bagi masyarakat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara timur (NTT). Kondisi alam di sana membuat sorgum mudah tumbuh. Belakangan, karena perkembangan zaman, jagung dan pagi menggantikan peran sorgum.

Sesungguhnya sorgum sangat cocok ditanam di wilayah Indonesia, khususnya di bagian timur Nusantara, misalnya Nusa Tenggara. Sorgum tidak butuh banyak air, cocok ditanam di daerah beriklim panas dan kering. Namun, hingga tahun 2011, hanya tinggal 40% petani Belu yang menanam sorgum.

 

Namun, karena kelangkaan sorgum yang dibudidayakan untuk makanan beberapa teknologi pun dilakukan untuk meningkatkan kulaitas sorgum

lokal. Karena selama ini sorgum lokal hanya batangnya yang dimanfaatkan untuk pakan ternak. Oleh karena itu, salah satu teknologi yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas sorgum adalah dengan teknologi iradiasi.

Iradiasi digunakan dengan menggunakan teknik iradiasi sinar gamma Cobalt 60. Iradiasi menyebabkan struktur kromosom berubah sehingga terjadilah mutasi genetika sorgum baru. Benih yang telah diiradiasi itu kemudian ditanam di laboratorium rumah kaca.

Dosis radiasi yang digunakan untuk mengubah struktur kromosom sorgum itu adalah 200-400 gray (Gy). Dosis ini menurut salah satu peneliti dari Batan yang telah melakukan riset mengenai iradiasi sorgum, Soeranto Hoeman, merupakan dosis paling optimal untuk menciptakan keragaman hasil yang diperoleh.

Proses mutasi genetika sorgum melewati beberapa tahap. Sorgum generasi pertama, setelah diiradiasi, kemudian ditanam lagi. Hasil penanaman inilah yang menjadi generasi kedua. Pada generasi kedua ini, tanaman telah mengalami mutasi, yang disebut sebagai mutan, untuk kemudian diseleksi dan dimurnikan guna pengembangan lebih lanjut menjadi galur.

Pada tahap industri, salah satu yang membudidayakan sorgum dengan industri iradiasi gamma adalah PT Batan Teknologi. Badan usaha milik negara di bidang pemanfaatan teknologi nuklir untuk budidaya sorgum di Kabupaten Belu.

Budidaya sorgum mempunyai prospek yang mendukung peningkatan nilai tampah produk pangan lokal. Karena selama ini Indonesia mengimpor 7 juta ton per tahun gandum. Sedangkan menanam gandum di Indonesia tidak memungkinkan karena iklim yang tidak cocok. Padahal masyarakat Indonesia saat ini gemar untuk mengonsumsi mi, roti, dan makan yang menggunakan gandum. Harapannya dengan budidaya sorgum yang dapat ditingkatkan dengan menggunakan iradiasi, ketergantungan Indonesia akan gandum impor dapat dikurangi, karena tepung sorgum dapat menggantikan tepung gandum. (RA))

Referensi:

Guritno GA, Taufiqurrohman, dan Antonius UT. 2013. Sorgum Tumbuh Lagi. Majalah Gatra. Hal- 44-45.

Soeranto. Pemuliaan Tanaman Sorgum di Patir Bantan. [Terhubung Berkala].http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/sorgum/sorgum.html

Soeranto. Teknologi Nuklir untuk Ciptakan Sorgum Unggul. [Terhunbung Berkala].http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/psn6a.pdf

Surya dan Soeranto. 2006. Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma Terhadap pertumbuhan Sorgum Manis. Risalah Seminar Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi. Hal 209-215.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *