Tentang Gerakan Kampanye Cinta Pangan Lokal

Keunggulan komparatif dari suatu negara yang didasarkan pada kekayaan sumber daya alam tidaklah cukup jika tidak disertai dengan keunggulan kompetitif yang mencakup kompetensi sumber daya manusia dalam mengelola sumber daya alam tersebut. Pada tahap awal, kekayaan alam bangsa sangat membantu pembangunan ekonomi suatu. Namun kekayaan alam saat ini tidak menjamin kemakmuran terus menerus di masa depan jika tidak dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten.

Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Singapura. Hal ini karena wilayah yang lebih luas dan jumlah penduduk lebih dari Malaysia dan Singapura (IMD World Competitiveness Yearbook 2007). 

Namun, daya saing Indonesia yang diukur dengan keunggulan kompetitif, jauh di belakang Malaysia dan Singapura. Singapura berada di peringkat 2 dan Malaysia berada di peringkat 21. Sementara Indonesia berada di peringkat 46 dari 144 negara (World Economic Forum 2011). Oleh karena itu, upaya-upaya harus dilakukan untuk meningkatkan keunggulan dan daya saing bangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan inovasi teknologi, dan pengentasan kemiskinan, serta peningkatan kemandirian bangsa yang salah satunya leewat kemandirian dan kedaulatan pangan.

Pengembangan pangan lokal dilakukan karena Indonesia memiliki keragaman hayati yang sangat kaya dan belum dimanfaatkan secara optimal. Keanekaragaman tersebut mencakup tingkat ekosistem, tingkat jenis, dan tingkat genetik, yang melibatkan makhluk hidup beserta interaksi dengan lingkungannya.

Produsen pangan nasional sudah saatnya menghidupkan kembali sumber-sumber pangan lokal untuk menghentikan kemerosotan keragaman varietas jenis pangan yang dibudidayakan oleh petani. Apabila kondisi ini terus dikembangkan di seluruh wilayah nusantara, maka kemampuan nasional untuk meningkatkan produksi pangan pasti akan meningkat sekaligus menghindarkan ketergantungan terhadap jenis pangan tertentu.

Dalam upaya membangun kemandirian daerah, usaha mikro dan kecil bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan industri agribisnis daerah. Hal ini dikarenakan sektor usaha tersebut merupakan sektor usaha yang mendominasi pangsa unit usaha di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2010 pangsa usaha mikro dan kecil mencapai 99,91 persen dari total unit usaha atau sebanyak 1.57.631 unit. Begitu pula dengan penyerapan tenaga kerja, sektor usaha mikro kecil adalah sektor yang secara agregat paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2010, usaha mikro kecil menyerap 96.641.923 tenaga kerja atau 94,53 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Kontribusi usaha mikro kecil terhadap PDB Indonesia juga cukup besar, yaitu mencapai 43,40 persen. Dengan demikian, usaha mikro dan kecil cukup berpotensi untuk mengembangkan industri kreatif daerah berbasis pangan lokal.

Potensi industri kreatif dan pangsa usaha mikro dan kecil merupakan peluang untuk mengembangkan kemandirian daerah berbasis pangan lokal. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris memiliki potensi pangan lokal yang beragam. Beberapa daerah di Indonesia yang memiliki potensi pangan lokal seperti Gorontalo dengan jagungnya dan Papua dengan sagunya pada kenyataannya pun masih bertumpu pada beras sebagai makanan pokoknya. Seperti telah terjadi pergeseran paradigm tentang program swasembada beras yang dicanangkan pemerintah, sehingga daerah-daerah yang berpotensi untuk mengembangkan potensi lokal justru mengarahkan konsumsinya pada beras.

Oleh karena itu, untuk menyadarkan masyarakat luas akan pentingnya pemilihan konsumsi yang mengarahkan pada pangan lokal dilakukan dengan menggalakan gerakan kampanye. Gerakan kampanye yang diakukan melalui media sosial dan kampanye di jalan untuk mengajak masyarakat setempat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengkonsumsi dan membeli produk dari Produsen yang dapat berupa pengusaha dan UKM yang memiliki basis pangan lokal.