Tiwhul Bermutu Beras Impor Mati Kutu

Mencintai Anak, Mencintai Pangan Lokal
May 20, 2013
Hasil Survei Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Membeli Pada Konsumen Waralaba Restoran Lokal dan Asing
May 29, 2013

 Tiwhul Bermutu Beras Impor Mati Kutu[1]

 

 “Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

(Koes Plus).

Apakah syair diatas masih relevan dengan keadaan Indonesia hari ini? Jawabannya, tentu saja masih. Sebab syair tersebut memang menggambarkan keadaan negara-bangsa bernama Indonesia. Bangsa yang diberkahi dengan wilayah yang luas, lengkap potensi penduduk terbesar ke-4 didunia. Memiliki lebih dari 17ribu pulau

 Tiwhul Bermutu Beras Impor Mati Kutu[1]

 

 “Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

(Koes Plus).

Apakah syair diatas masih relevan dengan keadaan Indonesia hari ini? Jawabannya, tentu saja masih. Sebab syair tersebut memang menggambarkan keadaan negara-bangsa bernama Indonesia. Bangsa yang diberkahi dengan wilayah yang luas, lengkap potensi penduduk terbesar ke-4 didunia. Memiliki lebih dari 17ribu pulau

yang terkenal kesuburannya. Diatas tanahnya, tumbuh aneka ragam hayati yang penuh nilai guna. Ditambah lagi luas laut yang mencapai 2/3 daratan, juga paling potensial didunia. Sehingga, dengan karunia itu, pantaslah orang menyebutnya tanah Surga.

Namun ironis, para penghuni Surga kini terjebak krisis. Pasalnya, dengan berkah tanah subur, rakyat belum juga makmur. Aneka ragam kekayaan hayati, tidak semua bisa menikmati. Segala macam potensi tersebut larut dalam arus globalisasi. Jika tidak berdaya saing, bangsa akan digerus kapitalis asing. Sebab inilah tanah Surga. Orang berebut menikmatinya. Keadaan hari ini sesuai dengan kutipan pidato Bung Karno, “…Kekurangan rezeki, itulah jang mendjadi sebab rakjat-rakjat Eropa mentjari rezeki di negeri lain; itu pula jang mendjadi sebab rakjat-rakjat itu mendjadjah negeri-negeri dimana mereka bisa mendapat rezeki”. Dalam konteks hari ini, tentu bukan penjajahan teritorial, tapi lebih pada konteks ekonomi. Negara Indonesia dengan lebih dari 245juta penduduk, tentu menjadi pangsa pasar besar bagi ekonomi dunia.

Pernyataan ini dibenarkan kenyataan bahwa hampir semua sendi kehidupan masyarakat Indonesia masih bergantung pada negara lain. Tidak terkecuali masalah ketahanan pangan. Sebab sampai hari ini, faktanya negara seolah “tidak punya pilihan” kecuali mengimpor bahan makanan mulai dari beras – sebagai makanan pokok, buah, dan daging. Bahkan lebih ironis lagi, negara maritim ini dianggap kekurangan garam sehingga harus impor garam juga. Artinya, negara belum berdaulat pangan. Padahal jika berkah potensi hayati ini diolah secara optimal, akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Namun sejauh ini, pemerintah memilih langkah konsumtif dengan terus mengimpor bahan pangan. Pertanyaannya, sampai kapan Indonesia akan terus mengimpor pangan?

Ketika Singkong Berganti Keju

Indonesia hari ini semakin dijejali barang kosumsi ekses dari globalisasi. Hingar bingar globalisasi menyediakan aneka makanan cepat saji (fast food) berkelas dunia. Restoran multi-nasional seperti Mc Donald, KFC (Kentucky Fried Chicken), atau Pizza Hut bahkan telah merambah sampai ke kecamatan seluruh Indonesia. Dengan pelayanan 24 jam sehari, masyarakat bahkan tidak perlu lagi memasak dirumah. Ditambah dukungan tempat representatif, iklan yang menarik, frame modernitas, dan berbagai sensasi lain, kian mengancam eksistensi makanan lokal. Bahkan tak jarang orang meninggalkan makanan lokal karena gengsi, dianggap kuno, atau dianggap kurang bergizi. Selain itu, menjamurnya retail-retail modern semakin menggerus habis pasar tradisional, yang menjadi (meminjam kalimat Jokowi) show room-nya makanan lokal. Sebab seperti kita ketahui, sebagian besar saham retail modern menjadi milik kapitalis asing. Lebih lanjut, retail modern juga menjadi pusat penjualan aneka minuman dan makanan ringan yang sebagian besar juga milik asing. Dengan begitu, pernyataan Bung Karno bahwa negeri lain mencari rejeki di negara kita dapat dibenarkan. Artinya, dunia memang mengakui bahwa tanah Indonesia adalah tanah Surga.

Dalam syairnya, Koes Plus memvisualisasikan tanah Surga dengan ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’. Syair  tersebut setidaknya menggambarkan 2 hal; (1) tanah yang subur dan (2) tanaman kayu yang mudah ditanam. Tanaman tersebut –menurut penulis – sangat sesuai dengan ubi kayu atau singkong. Sebab cara menanam singkong adalah dengan memotong batangnya – seperti tongkat – lalu ditanam. Selain itu, singkong juga dapat tumbuh di hampir semua wilayah di Indonesia. Tanaman singkong sangat melimpah, terutama di provinsi Lampung. Bahkan komoditas singkong Lampung mencapai hampir 10 juta ton per tahun yang menempatkannya diposisi pertama Nasional dan terbesar ketiga didunia. Dengan potensi itu, Lampung sekaligus menjadi salah satu penghasil tepung tapioka terbesar. Dengan kata lain, Indonesia menjadi tanah Surga karena memiliki komoditas singkong yang besar. Namun begitu, fakta yang sulit diterima bahwa negara masih juga mengimpor singkong, diantaranya dari Italia. Disamping itu, prestasi Lampung tersebut kontradiktif dengan predikat sebagai salah satu provinsi termiskin di Sumatera. Sebab lagi-lagi, pengolahan singkong terpusat pada pabrik-pabrik milik kapitalis asing.

 

Heroisme Singkong dan Masa Depan Ketahanan Pangan

Secara historis, tanaman singkong memang telah lama menjadi makanan pokok pengganti beras. Singkong kerap kali menjadi “penyelamat” sebagai alternatif pangan ketika beras sulit didapat. Salah satu olahan singkong yang paling terkenal adalah Thiwul. Mengolah singkong menjadi thiwul berasal dari budaya Jawa. Namun karena proses yang panjang dan mutu “kelas dua” menjadikan thiwul dianggap makanan kaum kepepet. Padahal dibelahan lain bumi Indonesia, masih banyak sekali orang yang mengkonsumsi nasi aking (nasi basi yang dikeringkan), sebagian bahkan terdapat di pulau Jawa. Lebih ironis lagi, masih terdapat banyak anak-anak terserang gizi buruk atau bahkan keluarga yang kelaparan. Artinya, olahan thiwul memiliki prospek “menyelamatkan” kebutuhan pangan dalam negeri. Selain itu, dengan olahan optimal dan bermutu, thiwul akan mampu bersaing guna menekan kebutuhan beras impor.

Di Lampung sendiri, eksistensi thiwul masih dipandang sebelah mata. Selain karena label “kelas dua”, thiwul kurang berkembang karena bukan kebudayaan asli daerah Lampung. Singkatnya, pengrajin thiwul masih sangat terbatas. Padahal mengingat Lampung sebagai penghasil singkong terbesar di Indonesia, sangat realistis bila thiwul dapat memenuhi kebutuhan pangan lokal. Sejauh ini, pemasaran thiwul tidak jauh dari pasar tradisional, itu pun dengan jumlah terbatas.

Dalam sajian kuliner khas Indonesia, thiwul memang belum menonjol. Masakan paling populer salah satunya adalah nasi goreng thiwul. Lagi-lagi, thiwul harus rela menjadi cadangan pemain utama; beras. Meski begitu, nasi goreng thiwul sejatinya memiliki rasa yang lebih khas dan gurih. Selain itu, thiwul juga relatif aman untuk penderita diabetes. Sehingga, apabila ada lebih banyak penjual nasi goreng thiwul, dapat melatih masyarakat mengkonsimsinya.

 

Thiwul Bermutu Tinggi: Solusi Ketahanan Pangan Lokal

Perkembangan industri pangan lokal – dalam hal ini thiwul, setidaknya menghadapi 3 tantangan. Ketiga tantangan tersebut adalah (1) tingkat produktifitas, (2) standard mutu dan (3) pemasaran. Untuk menghasilkan thiwul, para pengrajin setidaknya membutuhkan waktu 10 hari. Dalam proses ini pun, sangat dipengaruhi oleh cuaca. Sebab, pengrajin tradisional bergantung pada panas matahari untuk pengeringan. Sehingga, seorang pengrajin rata-rata hanya mampu menghasilkan 10 – 30 Kg thiwul per hari. Sebenarnya, proses ini dapat dipercepat. Yaitu pada proses pengeringan dan shaping dengan mesin modern, agar didapat butir thiwul yang seragam. Dengan begitu, seorang pengrajin dapat menghasil ratusan kilo gram thiwul per hari.

Tantangan selanjutnya –dan yang paling penting, yaitu standard mutu. Sejauh ini belum ada standard mutu komoditas thiwul. Akibatnya, perkembangan industri thiwul jalan ditempat. Dalam hal ini, pengrajin thiwul dituntut memiliki inovasi. Misalnya, -menurut penulis, dengan membuat thiwul putih. Konsepnya mirip dengan kopi putih (white coffee) yang sedang popular belakangan ini. Sebab dengan tampilan thiwul putih –seperti juga kopi putih, akan lebih berkesan bersih, sehat dan mewah. Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah kemasan. Pada umumnya, pengrajin thiwul tidak memiliki trade mark, bahkan tidak ada kemasan khusus. Tentu pertimbangannya adalah thiwul yang hanya dijual di pasar tradisional. Disamping juga pengrajin enggan mengurus lika-liku birokrasi. Namun untuk menembus dan merebut pasar, baik lokal maupun nasional, kemasan yang laik sangat perlu diperhatikan.

Dengan produktifitas thiwul yang besar dan standard mutu juga kemasan yang baik, maka thiwul siap bersaing dalam pasar pangan. Dengan demikian, thiwul diharapkan telah memenuhi syarat dan mampu menembus dominasi komoditas impor di retail-retail modern. Sehingga, masyarakat tidak hanya disuguhi beras impor. Lebih mulia lagi, masyarakat ekonomi menengah kebawah mendapat alternatif lain selain raskin (beras miskin). Sebab seperti diketahui, terdapat banyak mafia impor yang mendatangkan beras berkutu demi keuntungan. Sehingga apabila produktivitas thiwul bermutu, beras impor akan mati kutu. Dengan begitu, eksistensi pangan dan budaya lokal dapat terjaga. Lebih lanjut, industri thiwul ini akan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Sekaligus, menghasilkan komoditas pangan lokal yang terjangkau aman dan praktis. Semoga []

 

Oleh: Rian Oktavianto, STAIN Metro/Tarbiyah/PBI, Juara 2 Lomba Opini Go Pangan Lokal

 


[1] Opini ini dilombakan  dalam lomba opini Go Pangan Lokal MITI 2013

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *