Urgensi Sistem Pengendalian Mutu dalam Industri Pangan Nasional sebagai Upaya Merespons Kebutuhan Konsumen dan Tantangan Industri Pangan di Masa Depan

Tepung Glukomanan dari Umbi Porang sebagai Subtitusi Tepung Terigu pada Produk Pangan Alternatif berupa Mie Rendah Kalori
July 8, 2013
MEMBANGUN KOLABORASI ANTAR PENELITI DAN UMKM DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING BANGSA
January 3, 2014

Perkembangan industri pangan dewasa ini begitu pesat. Kebutuhan pangan masih merupakan kebutuhan esensial manusia yang berperan sebagai sumber energi dan berpikir. Tanpa pangan tiada kehidupan, dan tanpa kehidupan tiada kebudayaan. Perkembangan industri pangan tidak lagi mengikuti peningkatan kebutuhan pangan yang didasarkan dari pertumbuhan penduduk, namun juga mengikuti pola hidup masyarakat. Teknologi pangan memainkan peranan penting untuk mengembangkan varietas dan produk pangan. Saat ini, tuntutan masyarakat terhadap produk pangan yang dihasilkan begitu tinggi.

Perkembangan industri pangan dewasa ini begitu pesat. Kebutuhan pangan masih merupakan kebutuhan esensial manusia yang berperan sebagai sumber energi dan berpikir. Tanpa pangan tiada kehidupan, dan tanpa kehidupan tiada kebudayaan. Perkembangan industri pangan tidak lagi mengikuti peningkatan kebutuhan pangan yang didasarkan dari pertumbuhan penduduk, namun juga mengikuti pola hidup masyarakat. Teknologi pangan memainkan peranan penting untuk mengembangkan varietas dan produk pangan. Saat ini, tuntutan masyarakat terhadap produk pangan yang dihasilkan begitu tinggi.

Kualitas sensoris, gizi, serta keamanan pangan tak luput dari pemenuhan selera gizi masyarakat. Bahkan, semakin dewasa ini masyarakat juga mengharapkan adanya dampak positif pangan yang dikonsumsinya terhadap kesehatan.  Tidak mungkin tercapai pemenuhan gizi dan mutu pangan bilamana tidak didukung oleh tenaga ahli dan perkembangan teknologi industri pangan. Lagi-lagi, harus digarisbawahi titik tolak produksi industri pangan harus didasarkan pada permintaan konsumen akan suatu produk.

Pasar bebas industri pangan mancanegara memberikan tantangan kepada industri pangan domestik. Membludaknya produk pangan impor yang berkualitas menjadi bukti bahwa fenomena pasar bebas semakin mendominasi. Produk indutri pangan asing di pasar bebas menyasar pada segmen-segmen tertentu sehingga persaingan industri pangan domestik dan asing semakin ketat. Industri pangan domestik dapat memenangkan persaingan dengan catatan bahwa mereka mampu memberikan jaminan kepada konsumen tentang produk yang akan dikonsumsi bermutu dan aman, serta dengan tingkat harga yang terjangkau.

Sebagai konsekuensi logis untuk memenangkan persaingan, industri pangan harus memperhitungkan dan memberlakukan sistem jaminan pengendalian mutu dan kualitas pangan. Sistem pengendalian ini harus menjadi fokus utama yang nantinya akan efektif dalam mengurangi tingkat resiko cacat. Peran teknologi harus selalu didampangi oleh kajian ekonomis yang terkait dengan faktor mutu. Kualitas mutu yang bagus dan terjamin akan mendorong peningkatan produksi produk pangan, kemudian meningkatkan nilai tambah dan kesempatan kerja.

Tantangan industri pangan tidak jauh dari pemenuhan kemampuan gizi konsumen. Kesadaran konsumen pada pangan memberikan perhatian lebih terhadap gizi dan keamanan yang dikonsumsinya. Kadarisman (1996) berpendapat mutu harus dirancang dan dibentuk kedalam produk. Upaya peningkatan mutu produk haruslah dimulai dari tahap gagasan konsep produk, lalu melalui berbagai tahap pengembangan dan produksi, sampai akhirnya meminta umpan balik dari konsumen. Hal ini karena untuk memperoleh produk pangan yang bermutu baik dan terjamin bagi kesehatan, tidak cukup hanya mengandalkan pengujian akhir di laboratorium saja, tetapi juga diperlukan adanya penerangan pengendalian dan pengawasan dalam sistem jaminan mutu.

Implementasi pengendalian sistem jaminan mutu tidak hanya diterapkan pada seluruh mata rantai produksi pangan, tetapi juga diawasi secara berkala. Pada akhirnya industri pangan yang selesai melewati tahap ini akan menghasilkan produk yang tinggi dan bermutu yang pada akhirnya menciptakan kepuasan bagi konsumen.

Penerapan sistem pengendalian mutu adalah hal mutlak untuk terus dilakukan bukan sekedar untuk memenangkan persaingan dengan industri pangan asing, namun juga untuk memperoleh citra baik dari konsumen. Dewasa ini, permasalahan mutu yang telah menjadi fokus utama industri pangan bukan sekedar masalah pengendalian mutu, tetapi seberapa tercapainya dan terarahnya pada penguasaan total quality management (TQM) yang diwejantahkan kedalam sertifikat pengakuan mutu internasional.

Pengakuan atas sertifikat mutu ini diperlukan oleh Indonesia untuk menyiasati persaingan yang makin ketat dan mengokohkan kualitas industri pangan dalam negeri. Hal ini mengingat penting dilakukan Indonesia karena akan menghadapi kenyataan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat diiringi dengan perubahan dunia menuju perdagangan global, terutama  kawasan masyarakat ASEAN tahun 2015.

Oleh : Luqman Hakim, FEUI, Badan Otonom Economica FEUI

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *